Assalamualaikum Ya Akhi Ya Ukhti

Jom Solat..

Peperiksaan LLB 2013.. Bitaufiq Wan Najah

Computer Repair & Service

Rakan Bloggers

Banner

Showing posts with label 40 Hadis Terpenting Berkenaan Hari Kiamat. Show all posts
Showing posts with label 40 Hadis Terpenting Berkenaan Hari Kiamat. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

9 Mimpi Rasullulah SAW yang perlu kita ketahui

 
9 MIMPI RASULULLAH SAW | Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:

"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya,maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

BERSABDA RASULULLAH SAW: "SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU
YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"

Thursday, April 18, 2013

Waktu Mustajab Berdoa Pada Hari Jumaat


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum'at. Sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta'ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat al-Sajdah dan al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat al-Kahfi, shalat Jum'at berikut amalan-amalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do'a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum'at.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Karena ilmu tentangnya telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar.
Diriwayatkan, dari Sa'id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, "Aku menyampaikan kepada Abu Sa'id, 'sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum'at.' Beliau berkata, 'Aku pernah menanyakannya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau menjawab, "Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar." ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Lalu beliau berkata, "tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih." Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar.

Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al-Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut:

Pendapat Pertama: waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)

Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, "yuqalliluhaa" (sangat sebentar).

Imam al-Shan'ani rahimahullah dalam Subul al-Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul al-Salam: II/101)

Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah 'Ashar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, "yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka." (Zaad al Ma'ad: I/390)
Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah Radliyallah 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ
"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al-Baari :II/421 dan Zaad al-Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391)
. . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at. . .
Ibnul Qayyim berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al-Ma'ad: I/394)

Ibnul Qayyim juga mengatakan, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, "saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah 'Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut." (Zaad al-Ma'ad: I/396)

. . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar . . .

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

sumber asal dari blog : http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2012/04/05/18551/ada-waktu-mustajab-pengabulan-doa-di-hari-jumat-kapan-itu/

Tuesday, January 1, 2013

KAIFIAT BACAAN SURAH YAASIN UNTUK MENGEMBALIKAN BARANG HILANG



Kaedah yang dinyatakan di sini adalah satu ikhtiar yang boleh diamalkan bagi bermohon kepada Allah SWT agar barang yang hilang atau dicuri dijumpai semula.
Kaedah ini juga boleh diamalkan untuk bermohon agar Allah SWT mengembalikan semula ahli keluarga yang hilang atau yang lari dari rumah.
Cara atau kaifiatnya adalah seperti berikut;
1. Lakukan Solat Hajat sekurang-kurangnya 2 rakaat dengan bermohon supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang atau dicuri.

2. Doa berikut juga boleh dibaca ketika dalam sujud yang terakhir.
3. Selesai Solat Hajat, mulakan bacaan Surah Yaasin mengikut kaedah seperti berikut;
  • Membaca Surah Yaasin, apabila sampai pada perkataan Mubin yang pertama (iaitu diakhir ayat 12), berdoalah supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang, kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kedua, apabila sampai mubin yang pertama, berdoalah kemudian teruskan bacaan sehingga sampai mubin yang kedua (iaitu diakhir ayat 17). Berdoa lagi sekali di mubin yang kedua ini kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketiga, berdoa di mubin pertama, kedua dan ketiga (iaitu diakhir ayat 24). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keempat, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga dan keempat (iaitu diakhir ayat 47). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kelima, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima (iaitu diakhir ayat 60). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keenam, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam (iaitu diakhir ayat 69). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketujuh (pusingan terakhir) , berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh (iaitu diakhir ayat 77). Kemudian teruskan bacaan sehingga ayat terakhir Surah Yaasin.
  • Setelah selesai bermakna anda telah berdoa sebanyak 28 kali.
3. Untuk mendapatkan kesan yang lebih mujarab, lakukan amalan ini selama tiga malam berturut-turut sebaik sahaja mengetahui barang telah hilang.
4. Bagi memudahkan untuk beramal dengan kaedah ini, berikut adalah Surah Yaasin yang telah disediakan kolum bilangan doa yang dibaca mengikut turutan dari 1 hingga 28 yang ditandakan pada ayat yang berakhir dengan Mubin.
Darussyifa’ (YBhg Tuan Guru Al-Fadhil Ustaz Dato' Dr Haron Din Al-Hafiz)

Sunday, October 14, 2012

Puasa Sunat Arafah 9 Zulhijjah 1433


Assalamualaikum wbt..

9 Zulhijjah 1433 jatuh pada tarikh 25hb Oktober 2012. Jadi sama-samalah kita berebut peluang untuk meraih keampunan dan keredhaan Allah SWT dengan memperbanyakan beramal ibadah dan berpuasa Sunat Arafah pada 9 Zulhijjah 1433 bersamaan dengan 25.10.2012.

Berikut merupakan niat puasa dan doa berbuka puasa seperti yang diamalkan oleh kekasih kita Baginda Rasulullah saw.


Bacaan niatnya : Nawaitu ashoumul arafah lilyaumil ghoddi lillahi Ta’ala
Sedangkan Rasulullah ketika berbuka puasa mengucapkan : “Dzahabaz zhama-u wabtallatil uruuqu watsabatal ajru insya Allah”
Ertinya : “Telah hilang dahaga dan telah basah urat2 dan telah tetap pahala insya Allah”
Dan berdoalah kita sebanyak mungkin pada hari ini moga2 Allah kabulkan permintaan dan menghapusakan dosa kita. Wallahualam.



Kelebihan Bulan Zulhijjah



Bulan Zulhijjah, khususnya sepuluh hari awalnya adalah merupakan peluang kedua selepas Ramadhan untuk umat Islam mendapatkan gandaan keredhaan, keampunan dan pahala amalan.
Disebutkan oleh Nabi SAW :
"Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari itu" (Riwayat al-Bazzar ; Albani : Sohih).
Allah SWT pula berfirman :
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi Fajar dan hari-hari yang sepuluh" ( Al-Fajr : 1).
Majoriti ulama menyatakan hari sepuluh itu merujuk kepada hari pertama hingga sepuluh Zulhijjah dan bukannya sepuluh terakhir Ramadhan. (Zad Al-Ma'ad, Ibn Qayyim).
Ia juga disebut oleh Nabi SAW dalam hadith lain :
"Tiada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT untuk hambanya memperbanyakkan amalan dari sepuluh hari ini" (Riwayat Al-Bukhari).

 
 AMALAN-AMALAN UTAMA

Manakala amalan-amalan yang digalakkan sepanjang sepuluh awal Zulhijjah yang amat besar pahalanya ini antaranya :-
a) Zikir : Iaitu dengan memperbanyakkan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha Illa Allah dan Allahu Akbar.
Ia bersumber dari hadith riwayat At-Tabrani yang diakui sohih oleh Imam Al-Munziri. Allah SWT juga menyebut ertinya : "Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka serta memperingati dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu.." (Al-Hajj : 28).
Ibn Abbas r.a mentafsirkan erti ‘hari-hari tertentu' adalah sepuluh hari Zulhijjah ini dan inilah pendapat majoriti ulama jua.
b) Berpuasa : Amat digalakkan berpuasa pada satu hingga sembilan Zulhijjah bagi orang yang tidak menunaikan Haji. Hari Arafah (9 Zulhijjah ) pula adalah hari yang terbaik untuk berpuasa.
Nabi SAW bersabda tentang kelebihan hari Arafah :
"Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah" (Riwayat Muslim).
Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.
c) Melakukan lain-lain amalan seperti bersedeqah, membaca Al-Quran, solat sunat dan lain-lain. Ia semuanya termasuk di dalam umum hadith yang menunjukkan ianya amat disukai oleh Allah SWT.
d) Menjauhi maksiat dan masa terbaik untuk memulakan tawbat bagi sesiapa yang masih berfikir-fikir dan menangguhnya. Amat biadap jika umat Islam bersukaria dengan melampaui batas haram di hari yang amat agung di sisi Allah SWT ini.
Bertawbatlah dengan sebenar-benar tawbat dan sedarilah bahawa hidup ini sementara dan seluruh keseronokannya adalah tipu daya semata-mata.
e) Bertakbir : Ibn Abi Shaibah menyebut bahawa `Ali KW menunjukkan bahawa permulaan takbir bermula sejurus selepas solat Subuh hari Arafah sehingga hujung waktu ‘Asar hari ketiga Tashriq.
f)  Berkorban : Allah SWT berfirman : ertinya : "dan berdoalah dan berkorban". Allah SWT juga menyebut :
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب

Ertinya : "Sesiapa yang membesarkan syiar Allah (berkorban) mala ia adalah dari tanda ketaqwaan hati" (Al-Hajj : 32)
Sebuah hadis menyebut  :
ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم

Ertinya : "Tiadalah amalan anak Adam yang lebih disukai oleh Allah SWT pada hari kurban kecuali berkorban ( dengan menyembelih binatang)" ( Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud ; Gharib, namun terdapat rawi yang dipertikaikan )

Sunday, May 6, 2012

Larangan Mencipta Hadis Palsu



Hadith:

Dari Mughirah r.a katanya ia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:”Sesungguhnya berdusta berkenaan dengan ucapanku tidaklah sama dengan dusta terhadap ucapan orang lain. Siapa yang sengaja berdusta tentang hadithku, maka hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.”

(Bukhari)
Hadis Palsu atau istilah hadisnya dikenali sebagaiHadith al-Maudhu' . Ia dibincangkan secara mendalam di dalam disiplin ilmu yang dikenali sebagaiMustalah al-Hadith. Para ulama telah menjelaskan pengertian Hadis Maudhu' ini, sebagai contoh Imam Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam Qawa'id al-Tahdith fi Funun Mustalah al-Hadith, beliau menyatakan bahawa ia hadis dusta atau yang direka oleh seseorang perawi secara sengaja dan disandarkan hadis tersebut kepada Rasulullah SAW.

Sekalipun ia dikenali sebagai Hadis Maudhu', namun ia sama sekali bukannya hadis yang diucapkan atau yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. Bahkan, ia sama sekali tidak boleh dikategorikan di dalam kategori hadis Rasulullah SAW, walaupun dalam kategori Hadis Dhaif!

Perlu juga kita fahami bahawa sandaran 'Hadis'kepada Hadis Maudhu', bukan bermakna ia diiktiraf sebagai sebahagian daripada hadis Rasulullah SAW, bahkan ia merupakan satu istilah dalam disiplin ilmu hadis yang menggambarkan ia bukanlah hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, malah ia merupakan satu pendustaan yang direka oleh perawi dan mendakwanya sebagai hadis.

Saranan peribadi : Tindakan tegas wajib di ambil oleh Jabatan Agama Islam terhadap individu-individu yang tidak bertanggungjawab yang mencipta hadis-hadis palsu bagi mengelirukan Umat Islam. Penyebaran hadis-hadis palsu yang berleluasa di Internet harus dibendung segera agar Umat Islam tidak keliru dan terjebak dengan hadis palsu. Dan Umat Islam seharusnya mengkaji dahulu hadis berkenaan sama ada sahih atau tidak dengan pihak yang lebih arif dalam bidang hadis. WallahuAlam. -mohamad thamim-

Saturday, February 25, 2012

Syeikh Abdul Karim Omar al-Fatani al-Makki di Masjid Al-Hidayah, Taman Melawati


Alhamdulilah, berjalan dengan baik program Forum Perdana di Masjid Al-Hidayah yang bertajuk Peta Hidup. Yang menarik perhatian saya dan ramai Jemaah adalah kehadiran Syeikh Abdul Karim Umar Fatani Al-Makki, Imam Masjid Sultan Salahuddin, Shah Alam. Suara beliau yang sangat merdu ketika melaungkan Azan dan membacakan ayat-ayat Suci Al-Quran.. Bagaikan Seolah-olah berada di Tanah Suci Mekah. Walaupun saya belum kesempatan ke Tanah Suci lagi namun siapa yang tidak kenal suara Imam Besar Masjidil Haram seperti Syeikh Sudais dan Syeikh Maher al-Muaqly.

Beliau mampu meniru Suara Syeikh Sudais dan Syeikh Maher al-Muaqly ketika membaca Ayat Suci Al-Quran di Masjid al-Hidayah. Memang suaranya tidak dapat dibezakan,sangat merdu.Patut Syeikh Dr Abdul Rahman Sudais memberi gelaran Sudais II Malaysia . Ada sedikit video klip yang saya ambil namum saya bermohon maaf kerana video berkenaan tidak sempurna dan tidak lengkap recordingnya.


Alhamdulilah, majlis ilmu sebegini memberi impak yang baik agar kita tidak leka dengan duniawi dan sentiasa mendekatkan diri dengan Allah swt. Kita perlu ingat dan sentiasa berwasapada bahawa sekiranya kita sombong, alpa dan lupa kepada Allah swt, Maka kemungkinan besar Allah akan melupakan kita jua. Saya masih ingat satu perkataan yang dilontarkan oleh Ybhg Ustaz Ahmad Husam (pendakwah muda) yang berbunyi lebih kurang begini ... "will fulus in dunia, will mampus in akhirat"..kalau diteliti ayat ini,ianya sangat bermaksud iaitu sesiapa yang pentingkan dunia dengan mencari harta tanpa beribadat kepada Allah swt, maka dia tidak selamat di akhirat. WallahuAlam.
 

Saturday, November 5, 2011

Salam Eidul Adha Kepada Semua Muslimin & Muslimat

Assalamualaikum Muslimin & Muslimat Yang Dirahmati Allah. Selamat Hari Raya Qurban. Semoga Kita Semua Mendapat Rahmat-Nya.

Firman Allah Ta’ala bermaksud:

‘Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berqurbanlah”
(Al-Kautsar: 2)

1. SEJARAH KORBAN
Sejarah Korban anak-anak Nabi Adam a.s - Habil dan Qabil

Firman Allah Ta’ala bermaksud:
Bacakanlah (Yaa Muhammad) kepada mereka akan cerita yang sebenarnya tentang dua orang anak Nabi Adam (yang bernama Habil dan Qabil) iaitu ketika keduanya mempersembahkan korban (kepada Allah, maka yang seorang dari keduanya (Habil) diterima korbannya sedang yang lain (Qabil) tidak diterima korbannya - sebab itulah Qabil marah kepada Habil seraya berkata: “Nescaya kubunuh engkau!”

Sejarah Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya Nabi Ismail a.s

Firman Allah Ta’ala bermaksud:
“Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku (anak) daripada golongan orang-orang yang soleh. Maka kami (Allah) gembirakan dia dengan (mendapat) anak yang penyantun. Tatkala sampai (umur) sianak boleh berusaha, berkata Ibrahim: “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam tidur (mimpi) bahawasanya aku akan menyembelih engkau, oleh sebab itu lihatlah (fikirlah) apa pendapatmu?” (Sianak yakni Nabi Ismail) menjawab: “Wahai bapaku! Buatlah apa yang diperintahkan kepadamu, nanti engkau akan mendapati aku - insyaAllah daripada golongan orang-orang yang sabar.” (Al-Soffat: 100-102)


2. HIKMAH KORBAN
Menyembelih qurban juga merupakan amalan yang disukai oleh Allah Subahanhu wa Ta‘ala dan sebagai bukti serta keikhlasan kita dalam menghidupkan syi‘ar agama Islam. Ini jelas difahami dari firman Allah Ta‘ala yang maksudnya: “Daging dan darah binatang qurban atau hadyi itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa daripada kamu”. (Surah Al-Hajj:37)


Orang yang berkorban itu akan dikurniakan kebajikan (hasanah) sebanyak bulu binatang yang dikorban. Titisan darah korban yang pertama adalah pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu. Darah korban itu jika tumpah ke bumi, maka ia akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dan banyak lagilah. Bila dapat hayati sejarah korban Habil & Qabil serta kisah Nabi Ibrahim & Ismail … kitakan dapat menghayati/menyelami hikmahnya.

3. DEFINASI KORBAN
Korban bermaksud haiwan yang disembelih kerana ibadah pada Hari Raya Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq iaitu pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah dengan tujuan untuk mendampingkan diri kepada Allah Ta’ala (Syeikh Daud al-Fathoni, Furu’ al-Masail, Juz 1: 259).

4. HUKUM MELAKSANAKAN IBADAH KORBAN
Hukum asal ibadah korban itu adalah sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya. laubagaimanapun ianya boleh menjadi wajib apabila dinazarkan. Maka secara ringkasnya, korban itu terbahagi kepada 2:

Korban sunat
(muakkad - yakni tersangat dituntut mengerjakannya)


Korban wajib
Bagaimana korban boleh menjadi wajib? Binatang sembelihan bagi ibadat korban itu menjadi wajib apabila ia dinazarkan, sama ada:

Nazar itu nazar yang sebenar (nazar hakikat) ataupun Nazar dari segi hukum sahaja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya : “Sesiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaatinya”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Apa yang dimaksudkan dengan nazar yang sebenar dan nazar dari segi hukum? Nazar sebenar/hakiki itu adalah dengan menyebut nama Allah atau menggunakan perkataan ‘nazar’. Sebagai contoh orang yang berkorban itu berkata: “Demi Allah wajib ke atasku menyembelih kambing ini sebagai korban”, ataupun dia berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih kambing sebagai korban pada Hari Raya Haji nanti”.

Adapun bernazar dari segi hukum sahaja seperti seseorang itu berkata: “Aku jadikan kambing ini untuk korban”, ataupun dia berkata: “Ini adalah korban”, maka dianggap sama seperti bernazar yang sebenar kerana dia telah menentukan (ta‘ayin) binatang tersebut.

Binatang yang dinazarkan sebagai korban atau binatang korban wajib itu tidak boleh ditukar dengan yang lain walaupun dengan yang lebih baik. Apatah lagi dijual, disewakan atau dihibahkan (diberikan).

Sekiranya binatang korban wajib itu dijual oleh orang yang berkoban, maka hendaklah dia mendapatkannya semula daripada orang yang telah membelinya jika masih ada di tangan pembeli dan dia hendaklah memulangkan harga belian yang diterimanya. Jika tiada lagi di tangan pembeli, umpamanya sudah disembelihnya, maka wajib baginya mengadakan nilaian harga yang lebih mahal daripada harga waktu dia memiliki yang dahulu, dan hendaklah dia membeli semula dengan nilaian itu binatang korban yang sama jenisnya dan sama umurnya untuk disembelih pada tahun itu juga. Jika luput dia daripada menyembelihnya, maka wajib ke atasnya menyembelih binatang korban wajib itu pada tahun hadapannya sebagai qadha yang luput itu. Jika harga binatang korban itu (yang sama jenis dan umur dengan yang dahulu) lebih mahal kerana naik harga dan harga nilaian itu tidak mencukupi untuk membeli binatang yang sama dengan yang dahulu itu hendaklah ditambahnya dengan

Nota : hartanya yang lain. Begitulah juga hukumnya jika binatang itu tidak disembelih setelah masuk Hari Raya Adha dan binatang itu binasa dalam tempoh tersebut. Jika binatang korban wajib itu rosak, umpamanya mati atau dicuri orang sebelum masuk waktu berkorban dan bukan kerana kecuaiannya, tidaklah wajib dia menggantinya.

Manakala jika ia dibinasakan oleh orang lain, maka hendaklah orang yang membinasakan itu mengganti harga binatang korban wajib itu kepada orang yang punya korban dan dia hendaklah membeli semula binatang yang sama seperti yang dahulu, jika tidak diperolehi binatang
yang sama, hendaklah dibelinya yang lain sahaja sebagai ganti.

Adapun jika binatang korban wajib itu disembelih sebelum masuk waktu korban, wajiblah disedekahkan kesemua dagingnya dan tidak boleh bagi orang yang berkorban wajib itu memakan dagingnya walaupun sedikit dan wajib pula menyembelih yang sama dengannya pada hari korban itu sebagai ganti. Jika binatang korban yang telah ditentukan dalam korban wajib itu menjadi cacat (‘aib) setelah dinazarkan dan sebelum masuk waktu menyembelihnya dan kecacatan binatang itu adalah cacat yang tidak boleh dibuat korban pada asalnya, maka tidaklah disyaratkan menggantinya dan tidaklah terputus hukum wajib menyembelihnya
dengan adanya cacat tersebut. Bahkan jika disembelihnya pada Hari Raya Adha adalah memadai (boleh dibuat) sebagai korban.

Sekiranya binatang yang dalam keadaan cacat itu disembelih sebelum Hari Raya Adha hendaklah disedekahkan dagingnya itu dan tidak wajib menggantinya dengan binatang yang sama untuk disembelih pada Hari Raya Adha itu. Tetapi wajib bersedekah nilaian harga binatang yang disembelih itu. Jika kecacatan itu berlaku setelah Hari Raya Adha dan disembelih dalam keadaan yang demikian, maka tidaklah ia memadai (tidak memenuhi syarat) sebagai korban, kerana ia telah menjadi barang jaminan selagi belum disembelih, dan wajib diganti dengan yang baru.

Tidak sah dibuat korban bagi orang yang hidup melainkan dengan izinnya, dan tidak sah juga dibuat korban bagi orang yang telah mati jika simati tidak berwasiat untuk berbuat demikian. Orang yang membuat korban bagi simati dengan izinnya (yakni dengan wasiatnya) wajiblah atasnya bersedekah kesemuanya. Tidak ada bahagian untuk dirinya atau orang-orang dibawah tanggungannya

Tuesday, July 12, 2011

Hadis Pertama:

JANGAN MUDAH MENYALAHKAN ORANG LAIN
Dari Abu Hurairah Ra., bahawasanya  Rasullullah SAW bersabda: “Jika ada seseorang berkata, “orang banyak  (sekarang ini) sudah rosak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rosak di antara mereka.” (HR. Muslim)

Keterangan

Imam Nawawi ketika menulis Hadis ini dalam kitab Riyadus-Solihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: “Larangan seperti di atas tadi  (larangan mengatakan orang banyak telah rosak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rosak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram. 
Adapun orang yang berkata seperti ini kerana ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.Hadis ini sengaja diletakkan di permulaan buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada Umat Islam apabila menerangkan Hadis-hadis akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak menyingkap tentang kemunduran umat Islam dan kerosakan moral mereka. Oleh kerana itu, kita cuba mengaitkan hadis-hadis tersebut dengan realiti umat Islam dewasa ini, maka janganlah kita merasa bangga dan ‘ujub dengan diri sendiri, bahkan hendaklah kita menegur diri kita masing-masing dan jangan senang menuding jari ke arah orang lain. Walaupun kerosakan moral umat Islam dewasa ini perlu dibicarakan untuk tujuan memulihkan, namun penyingkapannya itu perlu dalam bentuk yang sihat dan dengan perasaan yang penuh kasih sayang serta dengan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan limpah karuniaNya mencucuri kita rahmat, taufiq dan hidayah.
 

Copyright © 2012 Reserved to MOHAMAD THAMIM ANSHAARI Design by CikBulat