Assalamualaikum Ya Akhi Ya Ukhti

Jom Solat..

Peperiksaan LLB 2013.. Bitaufiq Wan Najah

Computer Repair & Service

Rakan Bloggers

Banner

Showing posts with label Petikan Khutbah Jais/Jakim. Show all posts
Showing posts with label Petikan Khutbah Jais/Jakim. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Waktu Mustajab Berdoa Pada Hari Jumaat


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum'at. Sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta'ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat al-Sajdah dan al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat al-Kahfi, shalat Jum'at berikut amalan-amalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do'a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum'at.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Karena ilmu tentangnya telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar.
Diriwayatkan, dari Sa'id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, "Aku menyampaikan kepada Abu Sa'id, 'sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum'at.' Beliau berkata, 'Aku pernah menanyakannya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau menjawab, "Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar." ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Lalu beliau berkata, "tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih." Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar.

Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al-Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut:

Pendapat Pertama: waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)

Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, "yuqalliluhaa" (sangat sebentar).

Imam al-Shan'ani rahimahullah dalam Subul al-Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul al-Salam: II/101)

Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah 'Ashar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, "yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka." (Zaad al Ma'ad: I/390)
Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah Radliyallah 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ
"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al-Baari :II/421 dan Zaad al-Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391)
. . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at. . .
Ibnul Qayyim berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al-Ma'ad: I/394)

Ibnul Qayyim juga mengatakan, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, "saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah 'Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut." (Zaad al-Ma'ad: I/396)

. . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar . . .

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

sumber asal dari blog : http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2012/04/05/18551/ada-waktu-mustajab-pengabulan-doa-di-hari-jumat-kapan-itu/

Sunday, January 22, 2012

BAHAYA SYIRIK!!!


Syirik bermaksud mempersekutukan Allah SWT, meyakini dan mempercayai kepada sesuatu makhluk bahawa ia berkuasa untuk memberi manfaat dan mudharat terhadap sesuatu perkara. Kepercayaan yang merosakkan akidah ini dapat dilihat melalui perlakuan seperti memuja dan meminta pertolongan di tempat-tempat yang dipercayai keramat atau penunggu, berjumpa pawang untuk menilik nasib, membuat tangkal dan sebagainya.


Rasulullah s.a.w melarang umatnya dari melakukan segala bentuk syirik kerana ia merupakan dosa besar yang amat dimurkai oleh Allah SWT.


Firman Allah SWT di dalam surah An-Nisa ayat 48:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun) dan akan mengampuni dosa yang lain daripada itu bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. 

Sesiapa yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya dia telah melakukan dosa yang besar.


Akidah yang bersih dari segala bentuk perlakuan syirik adalah asas agama Islam. Lantaran itulah Rasulullah s.a.w berjuang menumpukan dakwah dalam tempoh kerasulan baginda bagi memperbetulkan akidah manusia. Justeru, sebagai seorang muslim, kita sewajarnya sedar tentang kepentingan akidah agar kita terus memperkemaskan dan memagarinya dengan ilmu, amal dan taqwa. Agar ia tidak mudah goyah dan dicemari dengan apa jua perlakuan syirik.


Syirik boleh berlaku dalam lima perkara:


Pertama : Syirik dalam iktikad. Iaitu meyakini ada Tuhan selain Allah.


Kedua : Syirik dalam ketaatan. Iaitu mentaati manusia lebih daripada mentaati Allah.
Sabda Rasulullah s.a.w:


Tiada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Pencipta”(Riwayat Bukhari)
Ketiga : Syirik dalam kasih sayang. Iaitu mengasihi manusia atau harta benda lebih dari mengasihi Allah.


Keempat : Syirik dalam tawakal. Iaitu berserah kepada manusia atau makhluk lebih dari berserah kepada Allah.


Kelima : Syirik dalam Ibadah. Iaitu mengabdikan diri kepada selain Allah. Al-Quran menerangkan syirik boleh berlaku dalam banyak bentuk.


Sebagai contoh, orang Yahudi melakukan syirik kerana menyangka Uzair adalah anak Tuhan dan orang Nasrani melakukan Syirik dengan menyembah Nabi Isa a.s. Ketaatan, kecintaan dan kasih sayang, taasub dan kefanatikan kepada individu secara berlebihan semuanya boleh membawa kepada syirik. 

Di antara perbuatan syirik yang masih berleluasa dan menjadi amalan di dalam masyarakat kita sehingga hari ini adalah mempercayai pawang, tangkal dan azimat seperti mengamalkan ilmu menurun, memuja kubur, memakai susuk, memuja untuk mendapatkan wang dan sebagainya. Bahkan drama-drama di televisyen sering memaparkan cerita-cerita tahyul dan hantu yang memaparkan watak bomoh, pawang dengan menggunakan kuasa tangkal azimat sehingga menarik minat ramai penonton dan sedikit sebanyak mempengaruhi jiwa dan akidah mereka khususnya terhadap remaja dan kanak-kanak. Rasulullah s.awdengan tegas melarang semua perbuatan ini kerana adalah perlakuan syirik.


Hadis daripada Abdullah R.A bahawa Rasulullah s.a.w bersabda;
¨Sesungguhnya tangkal, azimat dan guna-guna itu adalah perlakuan syirik. ¨ (Riwayat Hakim)


Sebenarnya amalan syirik seperti ini sudah sekian lama berada di dalam kehidupan manusia. Walaupun telah terbukti amalan-amalan ini tidak memberi apa-apa kesan secara pasti dan nyata, ia masih terus diyakini dan diamalkan oleh ramai manusia. Perbuatan syirik ini juga diamalkan secara meluas di kalangan umat arab sejak zaman berzaman. Rasulullah s.a.w telah berusaha dengan gigih menghapuskannya dari kehidupan umat Islam bagi memastikan akidah mereka bebas dari sebarang perlakuan syirik.


Daripada Uqbah bin Aamir R.A bahawa Rasulullah s.a.w bersabda :

Sesiapa yang menggantung azimat maka Allah tidak akan menyempurnakan hajatnya, dan sesiapa yang menggantung tangkal maka Allah tidak akan memberikan perlindungan kepadanya.¨(Riwayat Abu Yala dan Hakim)


Jelas sekali kemurkaan Allah SWT kepada mereka yang mensyirikkanNya, sehingga Allah berjanji tidak mengurniakan hajat mereka. Sudahlah harapan tidak kesampaian, ditambah pula dengan kemurkaan Tuhan di atas amalan syirik yang mereka amalkan. Bukankah ini perlakuan yang sangat merugikan dan sia-sia.


Perlu kita sedari bahawa di samping amalan-amalan syirik yang telah dinyatakan tadi, di sana ada satu jenis syirik kecil yang tersembunyi yang telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW agar kita berwaspada terhadapnya.


Daripada Mahmud bin Labid R.A bahawa Rasulullah s.a.w bersabda :


¨Sesungguhnya apa yang paling aku takuti terjadi ke atas kamu adalah Syirik yang tersembunyi. Para Sahabat bertanya. ¨Apakah Syirik yang tersembunyi itu, ya Rasulallah?¨ Baginda menjawab, ¨Riak. Allah berseru kepada mereka yang riak pada hari kiamat tatkala manusia menerima ganjaran pahala amalan-amalan mereka, ¨Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu pertontonkan amalan kamu kepada mereka, lihatlah adakah di sisi mereka ganjaran pahala (kamu).¨(Riwayat Ahmad)


Alangkah malangnya nasib orang yang riak. Mereka dihalau dari rahmat Allah dan disuruh menuntut pahala dari orang yang meraka beramal kerana orang-orang tersebut. Siapakah yang boleh memberi pahala kepada orang lain di hari yang penuh kekalutan itu? 

Ternyata tiada siapa yang dapat memberi pahala selain Allah.Marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dan meninggalkan segala perbuatan dan perlakuan syirik. 

Tiada yang bakal kita perolehi selain kemurkaan Allah dan tersingkir dari lindungan naungan Allah dan rahmat-Nya. Sedarlah bahawa sebagai seorang yang beriman, kita selayaknya hanya berdoa, memohon hajat dan perlindungan kepada Allah SWT sahaja. 

Pada masa yang sama kita taati segala perintah Allah dan meninggalkan segala maksiat dan kemungkaran agar hajat-hajat dan doa kita tidak terhijab. Setelah segala usaha kita jana dan doa kita panjatkan, bertawakkal dan berserah dirilah kepada-Nya. Begitu juga segala amal ibadah yang kita lakukan, perlu dipastikan ianya dengan tulus ikhlas kerananya. Seseorang yang syirik kepada Allah bererti dia telah menzalimi dirinya sendiri dengan mengiktiraf tuhan selain Allah, lalu dia dihumban ke lembah keresahan, ketakutan dan terhina di akhirat dengan azab neraka yang telah Allah sediakan disebabkan amalan syirik yang mereka lakukan.


Firman Allah di dalam surah Ali Imran ayat 151 :
Kami akan masukkan ke dalam hati orang kafir itu rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu (yang mereka sembah) sedangkan Allah tidak menurunkan sebarang keterangan yang membenarkannya. (Dengan yang demikian)kembali mereka ialah neraka. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang zalim¨.


Lihatlah kehinaan di dunia dan di akhirat yang telah Allah sediakan untuk orang-orang yang mensyirikkannya. Semoga kita akan sentiasa berusaha menjauhi segala amalan dan perlakuan syirik ini sepanjang hayat kita.


¨Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, ¡¨Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar¨.(Luqman : 13)

 

Copyright © 2012 Reserved to MOHAMAD THAMIM ANSHAARI Design by CikBulat