Assalamualaikum Ya Akhi Ya Ukhti

Jom Solat..

Peperiksaan LLB 2013.. Bitaufiq Wan Najah

Computer Repair & Service

Rakan Bloggers

Banner

Showing posts with label Ulama. Show all posts
Showing posts with label Ulama. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Waktu Mustajab Berdoa Pada Hari Jumaat


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum'at. Sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta'ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat al-Sajdah dan al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat al-Kahfi, shalat Jum'at berikut amalan-amalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do'a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum'at.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Karena ilmu tentangnya telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar.
Diriwayatkan, dari Sa'id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, "Aku menyampaikan kepada Abu Sa'id, 'sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum'at.' Beliau berkata, 'Aku pernah menanyakannya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau menjawab, "Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar." ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Lalu beliau berkata, "tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih." Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar.

Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al-Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut:

Pendapat Pertama: waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)

Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, "yuqalliluhaa" (sangat sebentar).

Imam al-Shan'ani rahimahullah dalam Subul al-Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul al-Salam: II/101)

Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah 'Ashar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, "yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka." (Zaad al Ma'ad: I/390)
Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah Radliyallah 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ
"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al-Baari :II/421 dan Zaad al-Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391)
. . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at. . .
Ibnul Qayyim berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al-Ma'ad: I/394)

Ibnul Qayyim juga mengatakan, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, "saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah 'Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut." (Zaad al-Ma'ad: I/396)

. . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar . . .

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

sumber asal dari blog : http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2012/04/05/18551/ada-waktu-mustajab-pengabulan-doa-di-hari-jumat-kapan-itu/

Tuesday, January 1, 2013

KAIFIAT BACAAN SURAH YAASIN UNTUK MENGEMBALIKAN BARANG HILANG



Kaedah yang dinyatakan di sini adalah satu ikhtiar yang boleh diamalkan bagi bermohon kepada Allah SWT agar barang yang hilang atau dicuri dijumpai semula.
Kaedah ini juga boleh diamalkan untuk bermohon agar Allah SWT mengembalikan semula ahli keluarga yang hilang atau yang lari dari rumah.
Cara atau kaifiatnya adalah seperti berikut;
1. Lakukan Solat Hajat sekurang-kurangnya 2 rakaat dengan bermohon supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang atau dicuri.

2. Doa berikut juga boleh dibaca ketika dalam sujud yang terakhir.
3. Selesai Solat Hajat, mulakan bacaan Surah Yaasin mengikut kaedah seperti berikut;
  • Membaca Surah Yaasin, apabila sampai pada perkataan Mubin yang pertama (iaitu diakhir ayat 12), berdoalah supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang, kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kedua, apabila sampai mubin yang pertama, berdoalah kemudian teruskan bacaan sehingga sampai mubin yang kedua (iaitu diakhir ayat 17). Berdoa lagi sekali di mubin yang kedua ini kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketiga, berdoa di mubin pertama, kedua dan ketiga (iaitu diakhir ayat 24). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keempat, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga dan keempat (iaitu diakhir ayat 47). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kelima, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima (iaitu diakhir ayat 60). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keenam, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam (iaitu diakhir ayat 69). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketujuh (pusingan terakhir) , berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh (iaitu diakhir ayat 77). Kemudian teruskan bacaan sehingga ayat terakhir Surah Yaasin.
  • Setelah selesai bermakna anda telah berdoa sebanyak 28 kali.
3. Untuk mendapatkan kesan yang lebih mujarab, lakukan amalan ini selama tiga malam berturut-turut sebaik sahaja mengetahui barang telah hilang.
4. Bagi memudahkan untuk beramal dengan kaedah ini, berikut adalah Surah Yaasin yang telah disediakan kolum bilangan doa yang dibaca mengikut turutan dari 1 hingga 28 yang ditandakan pada ayat yang berakhir dengan Mubin.
Darussyifa’ (YBhg Tuan Guru Al-Fadhil Ustaz Dato' Dr Haron Din Al-Hafiz)

Wednesday, September 5, 2012

Syeikh Abdullah Fahim (Ulama Nusantara)


ABDULLAH bin Ibrahim bin Tahir dipanggil dengan nama Haji Abdullah Pak Him. Pak Him ialah singkatan nama ayahnya, Ibrahim. Nama atau gelaran yang diketahui umum ialah Syeikh Abdullah Fahim.

Fahim yang dimaksudkan di sini ialah `Fahim' yang berasal daripada bahasa Arab, yang bererti `orang yang faham'.

Beliau lahir di Mekah pada tahun 1286 Hijrah/1869 Masihi, dan wafat pada tanggal 12 Zulkaedah 1380 Hijrah/ 27 April 1961 Masihi di Seberang Perai, Pulau Pinang.

Abdullah Fahim mendapat pendidikan asas tradisional daripada ayahnya sendiri, Haji Ibrahim bin Tahir di Mekah.

Ayahnya seorang yang alim mengenai bacaan al-Quran. Datuknya pula, Haji Tahir berasal dari Patani. Dikatakan juga bahawa beliau memahami ilmu-ilmu Islam tradisional cara Patani.

Ilmu yang dikuatkan adalah tiga jenis; ilmu yang berkaitan dengan fardu ain, iaitu menurut akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, berimamkan Imam Abu Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

Kedua, ilmu fikah mengikut Mazhab Syafie, dan ketiga, ilu tasawuf berimamkan Syeikh Junaid al-Baghdadi.

Selanjutnya Abdullah Fahim mendapat pendidikan pelbagai bidang ilmu juga di Mekah. Beliau menuntut ilmu daripada kira-kira 50 orang ulama.

Di antara gurunya yang berbangsa Arab ialah Syeikh Muhammad Said Babsail (Mufti Mazhab Syafie), Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayed Abu Bakri Syatha (penyusun kitab I'anah at-Thalibin)

Ulama dari dunia Melayu yang menjadi gurunya yang paling berpengaruh baginya ialah Syeikh Muhammad bin Ismail Daudi al- Fathani (penyusun kitab Mathla' al-Badrain), Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan, al-Kalantani (penyusun Al-Jauhar al-Mauhub dan Lum'ah al-Aurad) dan Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (pengasas pengkaderan ulama dunia Melayu di Mekah yang dikatakan mempunyai kemahiran sekurang-kurangnya 47 disiplin ilmu).

Sewaktu menuntut ilmu di Mekah, Abdullah Fahim bersahabat dengan beberapa orang yang berasal dari dunia Melayu, yang kemudian menjadi ulama dan tokoh-tokoh yang cukup terkenal.

Di antara mereka ialah: Tuan Guru Haji Umar, Sungai Keladi Kelantan (1284 H/1867 M -1366 H/1947 M), Syeikh Tahir Jalaluddin, Minangkabau (1286 H/1869 M-1376 H/1956 M), K.H. Hasyim Asy'ari, Jawa Timur (1287 H/1871 M-1366 H/1947 M), Tok Kenali, Kelantan (1287 H/1871 M-1352 H/1933 M) dan ramai lagi.

Abdullah Fahim seorang yang gigih mengajar kepada masyarakat dan menyebarkan ilmu-ilmu keIslaman, sama ada ketika menjawat jawatan Mufti Pulau Pinang atau sebelumnya.

Beliau pernah mengajar di beberapa tempat di Kedah, Kuala Kangsar, Perak dan Pulau Pinang. Selanjutnya beliau berhasil mendirikan sekolah agama di Seberang Perai Utara.

Kepakaran ilmunya:
Abdullah Fahim termasuk salah seorang ulama yang mahir dalam ilmu falak. Oleh kerana itu pendapatnya telah diminta untuk menentukan waktu yang sesuai bagi kemerdekaan Malaya.

Berdasarkan hisab dan falak Syeikh Abdullah Fahim, ditentukanlah bahawa hari kemerdekaan Malaya jatuh pada tanggal 31 Ogos 1957.

Mengenai ilmu hisab dan falak, beliau mempelajarinya daripada Syeikh Ahmad al-Fathani dan kemudian memahirkannya daripada Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Muhammad/ Syeikh Nik Mat Kecik bin Ismail Daudi al-Fathani, sahabatnya.

Ulama dunia Melayu yang seangkatan dengannya yang mahir dalam ilmu hisab dan falak tidak begitu ramai. Di antaranya yang berasal dari Malaysia ialah: Haji umar, Sungai Keladi Kelantan, Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor.

Sementara mereka yang berasal dari Indonesia pula ialah Syeikh Jamil Jambek dan Syeikh Tahir Jalaluddin.

Mereka yang berasal dari Patani ialah Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani dan Syeikh Abdur Rahman Gudang al-Fathani.

Ilmu langka, selain ilmu hisab dan falak yang dikuasai oleh Abdullah Fahim, ialah ilmu sastera Arab, yang dinamakan juga ilmu `arudh dan qawafi.

Termasuk juga di dalamnya ialah ilmu isti`arah dan ilmu balaghah. Pengkaderan ilmu yang tersebut juga dimulai dengan kebangkitan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Kader dan murid Syeikh Ahmad al-Fathani yang mahir menggubah syair dalam bahasa Arab secara profesional hanya beberapa orang, di antara mereka ialah: Syeikh Abdullah Fahim, Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani dan Syeikh Tengku Mahmud Zuhdi bin Abdur Rahman al-Fathani, Syeikh al-Islam Selangor.

Karya dan pemikirannya:
Karya-karya hasil tulisan Abdullah Fahim yang paling dapat ditonjolkan hanyalah melalui syair-syairnya dalam bahasa Arab, yang ditulis di dalam beberapa buah kitab yang diterbitkan oleh Persama Press Pulau Pinang, terutama sekali di dalam kitab-kitab mengenai ilmu hadis.

Di antaranya dalam kitab al-Hadiqah an-Nadiyah fi al-Hadits an-Nabawiyah yang disusun oleh Abi Abdil Hay Muhammad Isa bin Ibrahim ar-Rawa al-Filfulani (Rabiulakhir 1352 H).

Ada yang mengatakan bahawa Abdullah Fahim pernah menyusun sebuah kitab tafsir dan kitab mengenai ilmu falak tetapi tidak sempat diselesaikannya.

Walau bagaimanapun di atas selembar kertas dapat disemak jalan pemikirannya, di antaranya beliau beliau menulis:

``Tuan-tuan sedia maklum, beratus-ratus tahun bahawa orang-orang bangsa Melayu se Malaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas, awam-awam, qadhi-qadhi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga raja-raja, sekalian mereka itu bermazhab dengan Mazhab al-Imam asy-Syafie ijma'an. Tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada Mazhab Syafie ... ``

Abdullah Fahim menyebut nama kitab-kitab Arab yang dipegang di dalam Mazhab Syafie ialah, ``Ambil mereka itu hukum fikah Syafie daripada kitab Tuhfah, dan kitab Nihayah hingga kitab al-Umm dan mukhtasharatnya ... ``

Walaupun ilmu pengetahuan Arabiyahnya luas melaut, namun beliau juga merujuk kitab-kitab bahasa Melayu yang dikarang oleh ulama-ulama dunia Melayu yang terkenal.

Kitab-kitab yang beliau sebut ialah, ``Dan terjemahannya kepada bahasa Melayu, seperti Sabil al-Muhtadin, Bughyah at-Thullab, Mathla' al-Badrain dan lainnya''

Mengenai pegangan akidahnya, Abdullah Fahim menulis, ``Usuluddin atas perjalanan Abi al-Hasan al-Asy'ari. Diambil dari syuruh dan hawasyi Umm al-Barahin, dan Jauharah ... ``

Pegangan akidah dalam bahasa Melayu pula beliau sebut, ``Dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu''.

Yang dimaksudkan di sini semua kitab Melayu/Jawi yang membicarakan akidah yang dikarang oleh ulama-ulama dunia Melayu muktabar.

Beliau pernah belajar dan mengajar kitab berkenaan, di antaranya Faridah al-Faraid oleh guru beliau, Syeikh Ahmad al-Fathani, Aqidah an-Najin juga oleh guru beliau yang bernama Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani dan ad-Durr ats-Tasamin oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan kitab-kitab akidah lainnya.

Mengenai pegangannya di dalam tasawuf, beliau menulis, ``Ilmu tasawuf atas perjalanan al-Imam al-Ghazali diambilkan daripada Minhaj al-Abidin, Ihya' Ulumid Din ...''

Di dalam tasawuf beliau juga memartabatkan pengkaryaan ulama Melayu. Katanya, ``Dan terjemahnya kepada bahasa Melayu, seperti Siyar as-Salikin''.

Abdullah Fahim menegaskan, ``Maka ini kitab-kitab dan seumpamanya, segala hukum dalamnya kesemuanya mengistinbat daripada al-Quran dan hadis yang dihalusi dan ditapis oleh ulama-ulama ajilla', diamal dengan dia sudah lebih dari seribu tahun dan terjemah kepada bahasa Melayu beratus-ratus tahun.''

Keturunannya:
Di antara anak Syeikh Abdullah Fahim ialah Datuk Haji Ahmad Badawi. Beliau adalah seorang alim yang bertanggungjawab menangani sekolah agama yang didirikan oleh ayahnya.

Di antara anak Datuk Haji Ahmad Badawi pula ialah Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang secara rasmi dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia pada hari Jumaat, 31 Oktober 2003 Masihi bersamaan 5 Ramadan 1424 Hijrah oleh Yang Dipertuan Agong Malaysia.

Sunday, July 1, 2012

TASBIH CARA BAGINDA RASULULLAH SAW

ASSALAMUALAIKUM WBT.. ANA ADA SEDIKIT PERKONGSIAAN BERKENAAN CARA RASULULLAH SAW BERTASBIH DENGAN HANYA MENGGUNAKAN JARI BAGINDA..SELAMAT MENCUBA DAN BERAMAL. WALLAHU'ALAM



Tuesday, May 8, 2012

Biodata As-Syahid Ahmad Yassin (Pejuang Umat Islam Di Palestin)



Sedikit latar belakang As-Syahid
Nama asal – Ahmad bin Ismail bin Yassin
Dilahirkan di daerah Wilayah Asqalan, beliau dihalau keluar dari kampung halaman dan berhijrah ke Semenanjung Gaza diusia seawal 10tahun (1948). Bermula dari situlah beliau tinggal bersama – sama ibunya serta seorang lagi saudaranya mula menetap di Gaza. Beliau merupakan seorang pelajar yang cemerlang dalam pelajaran sehingga disayangi oleh para guru di sekolah. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yang aktif dalam aktiviti sukan sehinggalah pada usia 16 tahun, beliau mengalami kecederaan ketika melakukan riadhah di pantai yang mengakibatkan beliau lumpuh pada bahagian kaki. Namun, kelumpuhan tersebut tidaklah melumpuhkan semngat beliau dalam pelajaran mahupun aktiviti islam.
Disebabkan kesempitan hidup, beliau menangguhkan pelajaran selama lebih kurang 3 tahun untuk membantu keluarga. Walaubagaimanapun, beliau telah berjaya melanjutkan pelajaran ke Universiti Ain Shams di Kaherah pada tahun 1964. Namun begitu, setelah 2 tahun, beliau dipenjarkan oleh pihak berkuasa Mesir selama sebulan kerana penglibatan beliau dengan Ikhwanul Muslimin ketika itu.
Sepulangnya beliau ke Gaza, beliau meneruskan kehidupan dengan menjadi khatib Masjid Gaza dan juga menjadi guru Bahasa Arab. Dengan waktu yang singkat, beliau begitu terkenal dikalangan penduduk Gaza dengan khutbah – khutbahnya terutama berkenaan pendudukan rejim Zionis di kawasan Semenanjung Gaza pada tahun 1967.
Beliau juga merupakan pekerja kebajikan dan pendakwah yang gigih. Beliau banyak mendidik golongan muda dengan ajaran islam. Hasilnya, Ikhwanul Muslimin berkembang di Gaza pada tahun 1969 – 1970.
1973 – Penubuhan Mujamm’ al Islam (Akademi Islam) yang merupakan sebuah pertubuhan yang menjaga kebajikan para pelarian Palestin.
1982 – Penubuhan Al Mujahidun Al Filastiniyun yang merupakan gerakan jihad Palestin.
Pada tahun 1983, beliau ditangkap dan dipenjara oleh pihak rejim dengan tuduhan memiliki senjata api dan cubaan menggugat kerajaan Zionis Israel. Beliau dihukum penjara selama 13 tahun. Namun begitu, beliau hanya berada di dalam penjara selama lebih kurang 11 bulan hasil pertukaran tahanan diantara pihak PLO dan pihak rejim.
Setelah melihat keadaan negara – negara Arab yang mula tidak bersemangat untuk membebaskan Palestin, juga pihal PLO yang mula bertolak ansur dengan pihak rejim, beliau menubuhkan Gerakan Pembebasan Islam (HAMAS) pada tahun 1987. Kebanyakan ahli adalah merupakan pemuda – pemuda yang sangat dekat hati mereka dengan masjid. Nyata pergerakkan ini memberi impak yang besar kepada pihak rejim dan dikenali sebagai Intifadah.
Pihak Zionis mula merasa bahang pergerakkan ini dan natijahnya, pada Ogos 1988, beliau dihalau ke selatan Lubnan manakala rumah beliau dirobohkan. Tidak cukup dengan itu, pada 18 Mei 1989 beliau dan ratusan ahli HAMAS yang lain dipenjara oleh pihak Zionis kerana telah membunuh tentera – tentera dan komando -komando Israel. Sekali lagi, hukuman penjara selama 15 tahun dijatuhkan ke atas beliau. pada 16 Oktober 1991 atas sabit kesalahan mebunuh, menculik dan menyerang tentera Zionis.
Sungguh menyedihkan apabila akibat penahanan tersebut, kesihatan beliau mula terjejas. Beliau telah lumpuh seluruh badan kecuali kepala, hilang penglihatan sebelah kanan dan kabur di sebelah kiri, juga masalah pendengaran akibat tekanan dan penderaan selama di dalam penjara. Beliau juga sering menghidap jangkitan paru – paru dan abdomen sepanjang tempoh tersebut.
Pada 1 Oktober 1997, hasil rundingan pertukaran tawanan antar pihak Jordan dan Zionis telah membebaskan Syeikh Ahmad Yassin. Beliau ditukar dengan 2 perisik rejim ditangkap setelah gagal dalam cubaan membunuh Ketua Biro Politik Hamas di Amman, Jordan.
Sejurus pembebasan, beliau kembali aktif dalam memimpin HAMAS. September 2000 menyaksikan tercetusnya Intifadah ke – 2 setelah Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon mencemar Masjidil Aqsa bersama 200 tentera. Kesannya amat besar pada pihak rejim. Penentangan setiap hari dengan semangat yang tidak pernah luntur menyebabkan pihak rejim terpaksa melakukan pelbagai usaha untuk meredakan menentangan tersebut termasuk membunuh orang – orang awam dan membunuh pejuang dan pemimpin Palestin.
Kesannya, ramai pemimpin HAMAS yang telah syahid dibunuh oleh pihak rejim. Syeikh Ahmad Yassin juga tidak terlepas dari usaha jahat tersebut. Pada 6 September 2003, sebuah helikopter Apache telah membedil rumah beliau dengan usaha untuk mebunuh beliau namun dengan kuasa Allah SWT, nyata usaha tersebut gagal.
Namun, pada subuh 22 Mac 2004 sekali lagi mereka berusaha untuk membunuh beliau ketika beliau dalam perjalanan dari masjid. Sungguh, Allah telah memakbulkan doa beliau untuk mati sebagai seorang syahid. Betapa dunia menyaksikan ketakutan dan kekejaman rejim Zionis hanya kepada seorang lelaki berkerusi roda, yang hanya mampu menggerakkan kepala. 3 bedilan roket dilancarkan hanya untuk membunuh lelaki selemah ini. Sungguh, semangat beliau tidak memerlukan tubuh yang sasa untuk menakutkan musuh.


Semoga berbahagia As Syahid Ahmad Yassin di sisi Allah. Amin Ya Rabb

PESANAN SYEIKH AHMAD YASSIN (1938-2004)




PESANAN SYEIKH AHMAD YASSIN (1938-2004)

KEPADA PEMUDA DAN PEMUDI

Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian kembali kepada ALLAH swt dengan meninggalkan pelbagai keseronokan dan kealpaan kehidupan dan menyingkirkannya jauh daripada kehidupan kalian. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan solat subuh secara berjemaah. 

Sudah sampai saatnya untuk kalian menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, mengamalkan kandungan al-Quran serta mencontohi kehidupan Nabi Muhammad saw. Aku menyeru kalian wahai anak-anakku untuk solat tepat pada waktunya. Lebih dari itu, aku mengajak kalian wahai anak-anakku, untuk mendekat diri kepada sunnah Nabi kalian yang agung. 

Wahai para pemuda, aku ingin kalian menyedari dan menghayati makna tanggung jawab. Kalian harus tegar menghadapi kesulitan hidup dengan meninggalkan keluh kesah. Aku menyeru kalian untuk menghadap ALLAH SWT dan memohon keampunan dari-Nya agar Dia memberi rezeki yang berkat kepada kalian. Aku menyeru kalian supaya menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

Aku ingin kalian tidak tertidur oleh alunan-alunan muzik yang melalaikan, melupakan kata-kata yang menyebutkan cinta kepada manusia dan dunia serta menggantikannya dengan kata amal, kerja dan zikir kepada ALLAH. Wahai anak-anakku, aku amat berharap kalian tidak sibuk dengan muzik dan tidak terjerumus ke dalam arus syahwat. Wahai puteriku, aku ingin kalian berjanji kepada ALLAH akan mengenakan hijab secara jujur dan betul.

Aku meminta kalian berjanji kepada ALLAH bahawa kalian akan mengambil peduli tentang agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian untuk melakukan sesuatu yang boleh menarik perhatian pemuda supaya mendekati kalian.Kepada semua, aku ingin kalian bersiap sedia untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. 

Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat. Latihlah diri kalian agar dapat hidup tanpa elektrik dan peralatan elektronik. Latihlah diri kalian untuk sementara waktu merasakan kehidupan yang sukar. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perancangan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. carilah sebab-sebabnya dan tawakal kepada ALLAH.


Saturday, February 25, 2012

Biodata Syeikh Abdul Karim Omar al-Fatani al-Makki

Bismillahirrahmanirrahim ...
Assalamualaikum Warah Matullah ,
Allahumma Solli Ala' Muhammad 


Sewaktu berusia 14 tahun , dia pernah menjadi Imam terawih di sebuah masjid di Toif , Mekah . Berkebolehan meniru lebih 15 suara bacaan ayat suci al-Quran , termasuk Sheikh Maasyari al-Afaasy dan Sheikh Maher Muaqliyy .

Qari kepada diRaja Arab Saudi , jawatan yang belum pernah ( ketika itu ) disandang oleh orang Melayu . Pengiktirafan keatas bangsa melayu secara keseluruhan nya . Siapakah lelaki yang dimaksudkan ?

itulah ; Sheikh Abdul Karim Omar al-Fatani al-Makki , 29 Mac 1979 yang lahir dan dibesarkan di Kota Suci Makkah al-Mukaramah , Arab Saudi .

Tidak pernah lupa dengan asal usulnya yang mempunya kacukan darah Melayu di Malaysia dan Thailand .

Pendidikan :

Mendapat bimbingan agama dari ayahanda , sehingga mampu khatam al-quran beberapa kali sewaktu diusia muda .

Seusia 8 tahun , Sheikh Abdul Karim sering mengikut ayahnya mempelajari dan mendalami talaqqi dan tahfiz al-Quran di Masjid al-Haram .

Melanjutkan pelajarannya di Masjid Abdullah bin Abbas di Taif , Mekah .

Belajar di sekolah pondok di Pattani dan Thanawi di Maahad Darul Maarif , Thailand . Mempunyai diploma jurusan Syariah , Maahad 'Ali Li al-Dirasat al-Islamiyyah wal 'Arabiyyah
( MADIWA ) , Perak .

Seusai tamat pembelajarannya dalam jurusan syariat Islam di Universtiti al-Azhar di Mesir , beliau mendapat tawaran biasiswa melanjutkan sarjana muda nya di Universiti King Saud , Arab Saudi dalam jurusan Pendidikan Tafsir dan Hadis .

Sheikh Abdul Rahman Abdul Azizi al-Sudais , Imam besar Masjid al-Haram ketika membuat kunjungan ke Kuala Lumpur , Sheikh Abdul Karim memperdengarkan bacaan surah al-Fatihah dan ayat-ayat suci al-Quran dihadapan as-Sudais .

Tertarik dengan bacaan nya itu , as-Sudais memberikan anugerah kepada Sheikh Abdul Karim sebagai as-Sudais kedua di Malaysia .

As-Sudais juga , pernah menawarkan Sheikh Abdul Karim menjadi imam di masjid al-Haram .

Allahu'alam


sumber asal: http://abuqawliy18.blogspot.com 

Sunday, October 23, 2011


Pertama: waktu pagi dan sore hari.

Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash bersama dengan maw’idzatain (surat Al Falaq dan surat An Naas) masing-masing sebanyak tiga kali. Keutamaan yang diperoleh adalah: akan dijaga dari segala sesuatu (segala keburukan).

Dari Mu'adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata,

خَرَجْنَا فِى لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِيُصَلِّىَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتُمْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »


Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, "Apakah kalian telah shalat?" Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, "Katakanlah". Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, "Katakanlah". Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, "Katakanlah". Hingga aku berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A'UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A'UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akn mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan."
(HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kedua: sebelum tidur.

Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan, lalu keduanya ditiup, lalu dibacakanlah tiga surat ini. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti tadi diulang sebanyak tiga kali.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ


“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.”
(HR. Bukhari no. 5017)

Ketiga: ketika ingin meruqyah (membaca do’a dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit).

Bukhari membawakan bab dalam shohihnya ‘Meniupkan bacaan ketika ruqyah’. Lalu dibawakanlah hadits serupa di atas dan dengan cara seperti dijelaskan dalam point kedua.

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِى كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ . قَالَتْ عَائِشَةُ فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِى أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ


Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu'awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen)."
(HR. Bukhari no. 5748)

Jadi tatkala meruqyah, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan cara: Terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan lalu keduanya ditiup lalu dibacakanlah tiga surat tersebut. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti ini diulang sebanyak tiga kali.

Keempat: wirid seusai shalat (sesudah salam).

Sesuai shalat dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An Naas masing-masing sekali. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat  di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)

Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh).

Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Dari’ Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ : { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } وَ { قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ


“Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan pada point berikut.

Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah maghrib.

Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا أُحْصِى مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ


“Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at.

Ketika itu, surat Al A’laa dibaca pada raka’at pertama, surat Al Kafirun pada raka’at kedua dan surat Al Ikhlash pada raka’at ketiga.

Dari ‘Abdul Aziz bin Juraij, beliau berkata,  “Aku menanyakan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah membaca Al Fatihah) ketika shalat witir?”

‘Aisyah menjawab,

كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ يَقْرَأُ فِى الأُولَى بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَفِى الثَّانِيَةِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَفِى الثَّالِثَةِ بِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)

Dalam riwayat yang lain disebutkan tanpa surat al mu’awwidzatain.

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)


Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melaksanakan shalat witir dengan membaca Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash)” (HR. Abu Daud no. 1423 dan An Nasai no. 1730)

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan,

وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِي هَذَا لَا يَثْبُتُ ؛ فَإِنَّهُ يَرْوِيهِ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ ، وَهُوَ ضَعِيفٌ .وَقَدْ أَنْكَرَ أَحْمَدُ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ زِيَادَةَ الْمُعَوِّذَتَيْنِ .


“Hadits ‘Aisyah tidaklah shahih. Di dalamnya ada seorang perowi bernama Yahya bin Ayyub, dan ia dho’if. Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in telah mengingkari penambahan “mu’awwidzatain”.” (Al Mughni, 1/831)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan,

تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح لغيره دون قوله : والمعوذتين وهذا إسناد ضعيف عبد العزيز بن جريج لا يتابع في حديثه


“Hadits ini shahih kecuali pada perkataan “al mu’awwidzatain”, ini sanadnya dho’if karena ‘Abdul ‘Aziz bin Juraij tidak diikuti dalam haditsnya.” (Tahqiq Musnad Al Imam Ahmad bin Hambal, 6/227)

Jadi yang tepat dalam masalah ini, bacaan untuk shalat witir adalah raka’at pertama dengan surat Al A’laa, raka’at kedua dengan surat Al Kafirun dan raka’at ketiga dengan surat Al Ikhlas (tanpa mu’awwidzatain).

Namun bacaann ketika witir ini sebaiknya tidak rutin dibaca, sebaiknya diselingi dengan berganti membaca surat lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah mengatakan,

والظاهر أنه يكثر من قراءتها، ولا يداوم عليها فينبغي قراءة غيرها أحياناً حتى لا يعتقد العامة وجوب القراءة بها


“Yang nampak dari hadits yang ada, hendaklah bacaan tersebut seringkali saja dibaca, namun tidak terus-terusan. Sudah seharusnya seseorang membaca surat yang lain ketika itu agar orang awam tidak salah paham,ditakutkan mereka malah menganggapnya sebagai perkara yang wajib.” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/43)

Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at.

Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Dari Jabir bin Samroh, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ المَغْرِبِ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ : ( قَلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ ) وَ ( قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kesembilan: ketika shalat dua rak’at di belakang maqom Ibrahim setelah thowaf.

Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan,

فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد )


“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)


Semoga sajian ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Alhmadulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ’ala nabiyyina Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber :www.iloveallah.com

Tuesday, October 18, 2011

ZULHIJJAH BULAN PELENGKAP SISTEM IBADAT UMMAH


SYAWAL bulan meraikan kemenangan sudah pun melabuhkan tirainya, kini Zulkaedah menjelma dengan suasana yang mampu mencetuskan pemikiran, menggerakkan hati keinsafan serta membangkitkan semangat beramal apabila melihat jemaah haji mula berlepas ke Tanah Suci.
Kewajipan Zulhijjah ini bakal melengkapkan rukun Islam yang kelima dan diari setahun amalan umat Islam. Ibadah haji penuh dengan pengajaran bukan saja kepada bakal jemaah, malah semua umat Islam di seluruh pelusuk dunia.
Dan katakanlah wahai Muhammad, beramallah kamu akan segala apa yang diperintahkan, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan. – Surah Al-Taubah, Ayat 105
Semangat tinggi jemaah haji walaupun dalam keadaan ada yang bertongkat, berkerusi roda, sudah berusia dan uzur atau masih muda, meninggalkan anak masih kecil serta ahli keluarga memerlukan semata-mata menunaikan kewajipan serta pengabdian, mampu menyuntik semangat kita semua.
Maha Suci Allah yang panggilan-Nya tidak mengira usia, rupa, jantina, kekuatan, pangkat mahupun darjat. Hakikatnya, yang mereka hajati walau jauh beribu batu dan dengan segala macam ujian yang akan ditempuh adalah rahmat, keampunan dan keredaan-Nya.
Sememangnya perjalanan itu suatu pengembaraan ujian seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Perjalanan atau bermusafir itu adalah sebahagian daripada azab (penderitaan).” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)
Dengan sebab itulah, kejayaan bermusafir dalam ibadat haji dan mengambil roh daripada ibadat itu iaitu pengorbanan diraikan pula dengan Aidiladha.
Namun, di sebalik itu ada faktor dorongan atau tarikan luar biasa yang menyebabkan Tanah Suci tidak pernah lengang dan sunyi. Justeru, pengamatan terhadap kelebihan terkandung dalam Zulhijjah yang bakal tiba, mengukuhkan semangat beramal pada akhir tahun dalam takwim Islam.
Allah memberikan pelbagai keistimewaan dan kelebihan Zulhijjah antaranya, kemuliaan 9 Zulhijjah iaitu hari Arafah. Kelebihan itu pula terletak pada penilaian dan ganjaran Allah yang menjadi faktor dorongan luar biasa untuk beriman, beramal dan berakhlak.
Justeru, jika dikaji dengan mendalam, kita akan mendapati Allah menganugerahkan bagi umat Islam dengan aturan sistem, proses penilaian dan ganjaran yang tiada tolok bandingnya.
Pertama, sistem penilaian dan ganjaran Allah itu Maha Adil meliputi setiap yang baik di sisi-Nya. Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan katakanlah wahai Muhammad, beramallah kamu akan segala apa yang diperintahkan, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Taubah, ayat 105)
Kedua, penilaian-Nya Maha Menyeluruh sehinggakan tiada apapun yang terkecuali seperti firman-Nya yang bermaksud: “Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya). Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Surah al-Zalzalah, ayat 7 dan
Ketiga, penilaian-Nya Maha Halus dan akan dicatat sementara keempat, penilaian dan ganjaran Allah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Oleh sebab itu, hukum wajib menunaikan haji itu hanya disyaratkan kepada mereka yang berkemampuan dari sudut material, kesihatan mahupun keselamatan diri atau ahli keluarga yang ditinggalkan.
Kelima, penilaian dan ganjaran itu memberikan kepuasan. Bahkan, semakin tinggi darjat dan kesukaran melaksanakan sesuatu kewajipan itu semakin tinggilah ketenangan dan kepuasan diperolehnya.
Keenam, ganjaran Allah Maha Tinggi meliputi sesuatu yang tidak boleh diberi oleh makhluk serta amat dihajati atau diingini manusia termasuklah ganjaran suci daripada dosa dan dijanjikan syurga. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sesiapa yang menunaikan haji, tidak melakukan persetubuhan dan perkara fasik, nescaya dia akan kembali suci bersih daripada dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.” (Hadis riwayat imam al-Bukhari dan Muslim)
Ketujuh, dalam penilaian dan ganjaran-Nya, Allah SWT menyediakan suasana persekitaran penuh dengan rahmat dan keberkatan khasnya di Tanah Suci Makkah.
Beginilah istimewanya sistem penilaian dan ganjaran Allah SWT yang menjadi pendorong keimanan hamba-Nya. Justeru, prinsip dan bentuk asas dalam sistem ini dijadikan panduan dalam mewujudkan dorongan dan kepuasan bekerja hari ini, walaupun dalam pelbagai keterbatasan manusia.
Namun, apa yang sangat mustahak untuk diambil pengajaran adalah usaha mengambil pertimbangan yang seadil-adilnya dalam mengatur sistem penilaian dan menyediakan imbuhan serta penghargaan yang wajar dan setimpal.
Ia mestilah diusahakan sebaiknya oleh manusia dalam segenap urusan mereka bagi membuahkan kepuasan kerja dan keberkatan bagi pekerja serta majikan.

Wednesday, September 7, 2011

Pengasas Yayasan Sofa


Al-Musnid Syeikh Muhammad Fuad Bin Kamaludin Al-Maliki

Beliau dilahirkan pada 29 Sya’ban 1394H bersamaan 16 September 1974 di Kg. Chenong, Rembau, Negeri Sembilan dan merupakan satu-satunya anak lelaki daripada pasangan Hj. Kamaludin Bin Mahat dan Hjh. Zainab Binti Mahmud. Sebagai tunjang dan pencetus utama, Yayasan Sofa, bolehlah dikatakan segala kejayaan yang dicapai oleh Yayasan Sofa semenjak penubuhannya adalah hasil lontaran idea-idea bernas beliau yang berwawasan. Beliau juga merupakan seorang penulis yang telah berjaya menghasilkan lebih dari 200 buah kitab dalam pelbagai disiplin ilmu. Oleh kerana itu, tidak hairanlah ketika berusia 32 tahun beliau telah terpilih sebagai penerima Anugerah Khas Maal Hijrah 1427 peringkat Negeri Sembilan. Bahkan, melihat kepada kepakarannya dalam bidang ilmu agama, beliau telah dilantik sebagai Ahli Majlis Fatwa Negeri Sembilan semenjak tahun 2003. Sekalipun telah berjaya memperolehi segulung Ijazah Sarjana Muda Syariah dari Universiti Al-Azhar, beliau tidak pernah berhenti menambah ilmunya dengan bermusafir ke serata dunia Islam. Di antara gurunya yang terakrab ialah pakar hadith dari Makkah al-Mukarramah, Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki. Kini, hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk mengajar ilmu di serata tempat, mengadakan kaji selidik, menulis dan melakukan usaha-usaha dakwah untuk mempertahankan Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah dan memartabatkan anak bangsa dan agama.

Alhamdulilah saya berkesempatan mendengar ceramah Agama beliau yang sangat bermakna bagi saya di Masjid Al-Hidayah,Taman Melawati sekitar Tahun 2010.. Semoga Perjuangan Beliau sentiasa diberi pertolongan oleh Allah Taala demi menegakkan Agama Islam.Amin Ya Rabb...

 

Copyright © 2012 Reserved to MOHAMAD THAMIM ANSHAARI Design by CikBulat