Assalamualaikum Ya Akhi Ya Ukhti

Jom Solat..

Peperiksaan LLB 2013.. Bitaufiq Wan Najah

Computer Repair & Service

Rakan Bloggers

Banner

Showing posts with label sunnah Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label sunnah Nabi Muhammad. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

9 Mimpi Rasullulah SAW yang perlu kita ketahui

 
9 MIMPI RASULULLAH SAW | Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:

"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya,maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

BERSABDA RASULULLAH SAW: "SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU
YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"

Thursday, April 18, 2013

Waktu Mustajab Berdoa Pada Hari Jumaat


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum'at. Sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta'ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat al-Sajdah dan al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat al-Kahfi, shalat Jum'at berikut amalan-amalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do'a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum'at.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Karena ilmu tentangnya telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar.
Diriwayatkan, dari Sa'id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, "Aku menyampaikan kepada Abu Sa'id, 'sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum'at.' Beliau berkata, 'Aku pernah menanyakannya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau menjawab, "Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar." ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Lalu beliau berkata, "tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih." Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga  pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar.

Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al-Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut:

Pendapat Pertama: waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)

Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, "yuqalliluhaa" (sangat sebentar).

Imam al-Shan'ani rahimahullah dalam Subul al-Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul al-Salam: II/101)

Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah 'Ashar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, "yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka." (Zaad al Ma'ad: I/390)
Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah Radliyallah 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ
"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al-Baari :II/421 dan Zaad al-Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391)
. . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at. . .
Ibnul Qayyim berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al-Ma'ad: I/394)

Ibnul Qayyim juga mengatakan, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, "saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah 'Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut." (Zaad al-Ma'ad: I/396)

. . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar . . .

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

sumber asal dari blog : http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2012/04/05/18551/ada-waktu-mustajab-pengabulan-doa-di-hari-jumat-kapan-itu/

Tuesday, March 5, 2013

12 Jenis Makanan Kegemaran Rasulullah S.A.W.


Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah S.A.W. tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya kerana pandai menjaga makanannya sehari-hari. InsyaAllah kalau ikut diet Rasullullah ini, kalian takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

1. Barli : Bagus untuk demam jika dibuat sup.

2. Kurma : Nabi berkata rumah yang tidak mempunyai kurma adalah sepert rumah yang tidak ada makanan.

3. Buah Tin: Buah dari syurga. Boleh mengubati buasir.

4. Anggur : Nabi suka buah anggur. Ia membersihkan darah, menguatkan buah pinggang, membersihkan perut.

5. Madu: Ia adalah makanan segala makanan, minuman segala minuman, ubat segala ubat. Mengubati cirit birit jika dibancuh dengan air panas, membuka selera, menguatkan perut, membuang kahak. Elok diminun waktu pagi dengan air suam.

6. Tembikai (Segala Jenis): Nabi berkata wanita mengandung tidak akan gagal melahirkan anak yang baik dari segi karater dan wajahnya.

7. Susu : Nabi berkata susu baik untuk membuang panas badan seperti tangan membuang peluh dari dahi. Menguatkan belakang, memperbaiki otak memperbaharui pandangan mata, membuang kelupaan.

8. Cendawan: Baik untuk mata, perancang keluarga.

9. Minyak Zaitun: Rawatan kulit dan rambut. Melambatkan penuaan, merawat radang perut.

10. Delima: Membersihkan tubuh dari syaitan & bisikan syaitan selama 40 hari.

11. Cuka: Nabi selalu meminum dengan minyak zaitun (Trend yang popular di restoran Itali)

12. Air: Minuman terbaik. Jika dahaga hendaklah disedut perlahan-lahan. Jangan diteguk. Mudah mendapat sakit pada hati.

Hati yang bersih dapat melahirkan pemikiran yang waras. Maka, ‘suapkanlah’ ia dengan makanan dari sumber yang halal dan berkhasiat

Tuesday, January 1, 2013

KAIFIAT BACAAN SURAH YAASIN UNTUK MENGEMBALIKAN BARANG HILANG



Kaedah yang dinyatakan di sini adalah satu ikhtiar yang boleh diamalkan bagi bermohon kepada Allah SWT agar barang yang hilang atau dicuri dijumpai semula.
Kaedah ini juga boleh diamalkan untuk bermohon agar Allah SWT mengembalikan semula ahli keluarga yang hilang atau yang lari dari rumah.
Cara atau kaifiatnya adalah seperti berikut;
1. Lakukan Solat Hajat sekurang-kurangnya 2 rakaat dengan bermohon supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang atau dicuri.

2. Doa berikut juga boleh dibaca ketika dalam sujud yang terakhir.
3. Selesai Solat Hajat, mulakan bacaan Surah Yaasin mengikut kaedah seperti berikut;
  • Membaca Surah Yaasin, apabila sampai pada perkataan Mubin yang pertama (iaitu diakhir ayat 12), berdoalah supaya Allah SWT mengembalikan barang yang hilang, kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kedua, apabila sampai mubin yang pertama, berdoalah kemudian teruskan bacaan sehingga sampai mubin yang kedua (iaitu diakhir ayat 17). Berdoa lagi sekali di mubin yang kedua ini kemudian ulang semula bacaan Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketiga, berdoa di mubin pertama, kedua dan ketiga (iaitu diakhir ayat 24). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keempat, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga dan keempat (iaitu diakhir ayat 47). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan kelima, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima (iaitu diakhir ayat 60). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan keenam, berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam (iaitu diakhir ayat 69). Kemudian patah balik membaca Yaasin daripada mula.
  • Untuk pusingan ketujuh (pusingan terakhir) , berdoa di mubin pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh (iaitu diakhir ayat 77). Kemudian teruskan bacaan sehingga ayat terakhir Surah Yaasin.
  • Setelah selesai bermakna anda telah berdoa sebanyak 28 kali.
3. Untuk mendapatkan kesan yang lebih mujarab, lakukan amalan ini selama tiga malam berturut-turut sebaik sahaja mengetahui barang telah hilang.
4. Bagi memudahkan untuk beramal dengan kaedah ini, berikut adalah Surah Yaasin yang telah disediakan kolum bilangan doa yang dibaca mengikut turutan dari 1 hingga 28 yang ditandakan pada ayat yang berakhir dengan Mubin.
Darussyifa’ (YBhg Tuan Guru Al-Fadhil Ustaz Dato' Dr Haron Din Al-Hafiz)

Sunday, September 2, 2012

Apa Itu Takafur


Tafakur

Tafakur atau dalam bahasa Inggeris 'meditation' ditafsirkan oleh barat sebagai aktiviti mendiamkan diri dalam posisi tertentu, pada tempoh tertentu untuk memperoleh ketenangan. Tujuannya adalah untuk merehatkan otak yang mana otak yang sihat ini dapat memandu tubuh badan menjadi lebih sihat dan produktif. Seterusnya aura dan getaran seseorang itu lebih tulen.

Tafakur bukanlah perkara yang asing dalam Islam. Terlalu banyak panduan yang digariskan dalam Islam yang boleh dikaitkan dengan tafakur dan juga objektif tafakur itu sendiri. Antaranya beriktikaf dalam masjid untuk mengingati Allah melalui amalan zikir serta amalan lain seperti membaca al-Quran. Solat itu sendiri mempunyai kesamaan objektifnya dengan tafakur.

Seorang yang khusyuk dalam solat akan melupai apa yang berlaku di sekelilingnya dan melatih seseorang menjadi lebih fokus. Selepas solat, maka disunatkan kita berzikir dan berdoa. Ia adalah amalan untuk kita lebih menenangkan diri melalui zikir dengan mengingati Allah dan menaikkan keyakinan seseorang bahawa Allah itu sentiasa mendengar melalui aktiviti doa.

Banyak lagi panduan melalui amalan ketuhanan dalam Islam yang mempunyai objektif yang sama seperti tafakur dan ia bukan sahaja memberi ketenangan di dalam jiwa, malah membina sifat sabar, yakin, syukur, tabah dan berserah.

Tuesday, July 3, 2012

MALAM NISFU SYAABAN


Nisfu dalam bahasa arab bererti setengah. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban. Malam Nisfu Syaaban adalah malam lima-belas Syaaban iaitu siangnya empat-belas haribulan Syaaban. Maka, Nisfu Syaaban adalah peristiwa hari ke-15 dalam bulan Syaabantahun Hijrah. Umat Islam mempercayai yang pada malam Nisfu Syaaban, amalan akan dibawa naik oleh malaikat untuk ditukar dengan lembaran amalan yang baru setelah setahun berlalu.
Nabi Muhammad s.a.w. menggalakkan umatnya untuk bangun malam dan berjaga serta beriktikaf sepanjang malam kerana tidak mahu amalan diangkat dalam keadaan tidur atau lalai. Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul qadr. Saiyidatina Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W tidak tidur pada malam itu sebagaimana yg tersebut dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi r.a:Rasulullah S.A.W telah bangun pada malam (Nisfu Syaaban) dan bersembahyang dan sungguh lama sujudnya sehingga aku fikir beliau telah wafat. Apabila aku melihat demikian aku mencuit ibu jari kaki Baginda S.A.W dan bergerak. Kemudian aku kembali dan aku dengar Baginda S.A.W berkata dlm sujudnya, “Ya Allah aku pohonkan kemaafanMu daripada apa yg akan diturunkan dan aku pohonkan keredhaanMu daripada kemurkaanMu dan aku berlindung kpdMu daripadaMu. Aku tidak dapat menghitung pujian terhadapMu seperti kamu memuji diriMu sendiri.” Baginda Rasulullah sendiri telah menggalakkan kita agar beramal pada malam kemuliaan nisfu syaaban dengan sabdanya :
Ertinya : “ Apabila tiba malam Nisfu Syaaban , maka hendaklah kalian bangun pada malamnya (melakukan ibadat) dan berpuasa pada siangnya, ini kerana Allah swt (turun merahmati hamba-hambaNya) pada malam tersebut mulai dari terbenamnya matahari ke langit dunia. Allah swt berfirman ” Adakah dari kalangan hamba-hambaKu yang memohon keampunan, maka akan Ku ampunkannya. Adakah dari kalangan mereka yang memohon rezeki , maka akan Ku turunkan rezeki untuknya. Adakah dari kalangan mereka orang yang ditimpa bala, maka akan Ku sejahterakannya. Adakah dari kalangan mereka yang begini dan adakah dari kalangan mereka yangt begini sehinggalah terbit Fajar “.
Setelah Baginda S.A.W selesai sembahyang, Baginda berkata kpd Saiyidatina Aisyah r.a.“Malam ini adalah malam Nisfu Syaaban. Sesungguhnya Allah Azzawajjala telah datang kepada hambanya pada malam Nisfu syaaban dan memberi keampunan kepada mereka yg beristighfar, memberi rahmat ke atas mereka yg memberi rahmat dan melambatkan rahmat dan keampunan terhadap orang2 yg dengki.”
Hari nisfu Syaaban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Syaaban bermula pada 14 hb Syaaban sebaik sahaja masuk maghrib).

Sunday, May 20, 2012

Kelebihan Bulan Rejab


sumber : Ustaz Kazim Elias
Assalamualaiakum wbt. InsyaAllah bulan Rejab yang sangat Mulia akan kembali tidak lama lagi, Banyak peristiwa yang penting berlaku dalam bulan ini. Maka, saya menasihati diri saya sendiri dan saudara/ri agar beramal dengan sebaiknya dalam Bulan yang Mulia ini demi Allah swt. Berikut beberapa kelebihan dan amalan yang perlu kita laksanakan di Bulan yang saya petik dari laman http://nasbunnuraini.wordpress.com. Semoga kita semua mendapat Hidayah & Taufiq

BULAN REJAB MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

Pengenalan

1. Rejab ertinya “Mulia”. Bulan Rejab adalah bulan mulia. Ia diberi nama sedemikian kerana bangsa Arab dahulu sangat memuliakan bulan ini dengan 4 cara iaitu: -


(i) Tanggal 1hb Rejab mereka menyembelih anak unta sebagai qurban.

(ii) Tanggal 1hb Rejab mereka akan membuka pintu Ka’abah siang dan malam agar dapat beribadah dengan sepuasnya.

(iii) Tanggal 10hb Rejab mereka kembali menyembelih qurban tetapi tidak lagi anak unta. Amalan ini telah dibatalkan setelah datangnya Islam.

(iv) Bulan diharamkan berperang, setelah datangnya Islam amalan ini juga telah dibatalkan.

2. Tanggal 27hb Rejab berlakunya peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah SAW iaitu Isra’ dan Mi’raj. Terdapat khilaf di kalangan ulama’ mengenai tarikh sebenar berlakunya peristiwa ini tetapi jumhur ulama’ bersepakat menerima ianya berlaku pada 27hb Rejab. Tarikh berlakunya Isra’ dan Mi’raj tidaklah penting tetapi umat Islam wajib meyakini bahawa peristiwa ini benar-benar berlaku ke atas tubuh mulia Rasulullah SAW berdasarkan dalil qatie dari al-Quran dan hadis-hadis sahih.

3. Pada bulan ini juga berlakunya peperangan Tabuk pada tahun 9 Hijrah iaitu peperangan terakhir yang disaksikan oleh Rasulullah SAW.


Bulan Rejab Menurut Al-Quran

Al-Quran tidak menyebut secara khusus mengenai bulan Rejab dan kelebihannya melainkan terdapat dua surah yang menyentuhnya secara tidak langsung iaitu surah al-Baqarah (ayat 194 dan 217) dan surah at-Taubah (ayat 2, 36 dan 37). Di antara dalil al-Quran ialah firman Allah SWT yang bermaksud:-

“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati,…”
(Al-Baqarah: 194)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara 4 bulan haram ¹ …”
(At-Taubah: 36)

Ulama berselisih pendapat kenapa bulan-bulan ini (bulan Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab) dinamakan bulan haram. Pertama, dikatakan bahawa ia disebabkan kebesaran kehormatannya, sebagaimana besarnya dosa yang dikira jika dilakukan dalam bulan itu.

Ibn Abbas berkata bahawa sesungguhnya Allah mengkhususkan keempat-empat bulan itu, sebagaimana ganjaran besar untuk amalan soleh yang dilakukan dalam bulan itu.

Kedua, dikatakan juga ia dinamakan bulan haram lantaran pengharaman peperangan dilakukan dalam bulan itu dan ia dalah amat dikenali pada masa jahiliyah dan dikatakan juga ia dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim a.s.

(1) Maksudnya antara lain ialah: bulan haram (bulan Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab)

(2) Dikatakan juga oleh ulama bahawa keempat-empat bulan itu dinamakan haram berikutan pengharaman peperangan disebabkan ibadah haji dan umrah yang dilakukan dalam bulan haram itu. Bulan Zulkaedah, Zulhijjah dan Muharram adalah tiga bulan yang berturutan. Maka, diharamkan bulan Zulkaedah lantaran bakal haji melakukan perjalanan ke Makkah dalam bulan itu. Bulan Zulhijjah disebabkan ibadah haji dilakukan dalam itu dan bulan Muharram pula mereka yang mengerjakan ibadah haji akan kembali ke tempat masing-masing. Pengharaman ini bagi membolehkan mereka yang mengerjakan haji berasa aman terhadap keselamatan diri. Rejab pula diharamkan lantaran ibadah umrah dilakukan dalam bulan itu pada pertengahan tahun.


Bulan Rejab Menurut As-Sunnah

Berdasarkan dalil al-Quran jelas menunjukkan bahawa bulan Rejab termasuk dalam bulan-bulan yang sangat dimuliakan atau dipanggil juga Al-Ashhur Hurum. Perlu ditegaskan bahawa melakukan puasa dalam bulan-bulan ini adalah dituntut (mandub). Ada hadis yang menyebut bahawa Rasulullah SAW menyuruh para sahabat melakukan puasa sunat dalam bulan Al-Ashhur Hurum. Berpuasa dalam bulan Rejab adalah dituntut tetapi tiada satu hadis sahih yang mebuktikan bahawa berpuasa pada hari-hari tertentu dalam bulan Rejab akan mendapat ganjaran istimewa.

Dalam satu riwayat datang seorang lelaki dari Bahilah datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, saya adalah lelaki yang datang menemui anda pada tahun pertama” Ujar Nabi SAW, “Kenapa keadaanmu telah jauh berubah padahal dahulunya kelihatan baik? Kata lelaki itu, “Semenjak berpisah dengan anda, saya tidak makan hanyalah di waktu malam” Maka tanya Rasulullah SAW “Kenapa kamu seksa dirimu?” Lalu sabdanya “Berpuasalah pada bulan sabar – yakni bulan Ramadan dan satu hari dari setiap bulan!” Tambahlah buatku kerana saya kuat melakukannya! Ujar lelaki itu. “Berpuasalah dua hari! Sabda Nabi. “Tambahlah lagi!” Mohon lelaki itu pula. Maka Nabi SAW bersabda “Berpuasalah dalam bulan suci (haram) lalu berbukalah! (kemudian diulangi sebanyak tiga kali) sambil mengucapkan itu Nabi SAW memberi isyarat dengan jari-jarinya yang tiga, mula-mula digenggam lalu dilepaskan” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah dan Baihaqi dengan sanad yang baik).

Berpuasa dalam bulan-bulan haram iaitu empat bulan, tiga bulan berturut-turut (Zulkaedah, Zulhijjah dan Muharram) dan satu bulan berasingan (Rejab) adalah sebaik-baik bulan untuk berpuasa selepas Ramadan. Sebaik-baik bulan haram ialah Muharram diikuti dengan Rejab dan seterusnya. Keempat-empat Imam Mazhab sepakat mengatakan bahawa berpuasa dalam bulan haram sangat dituntut namun adalah makruh memilih bulan Rejab sahaja untuk berpuasa.

Terdapat satu hadis yang bertaraf hasan menceritakan bahawa Rasulullah SAW telah berpuasa (di dalam bulan Rejab) lebih banyak daripada bulan Sya’aban dan bila ditanya, baginda menyatakan, kerana ia (Rejab) bulan pengampunan di antara Rejab dan Ramadan. Ada sebahagian masyarakat berpuasa berturut-turut (Rejab, Sya’aban dan Ramadan) di ketiga-tiga bulan. Ini bukannya dari Rasulullah SAW, bukan dari sahabat dan salafussoleh. Yang terlebih baik ialah berpuasa sebahagiannya atau berpuasa selang sehari dan bukan berterusan. Inilah sunnah Rasulullah SAW.


Perselisihan Pendapat Mengenai Hadis-Hadis Berkaitan Kelebihan Bulan Rejab

Memang terdapat banyak hadis yang menyebut secara khusus mengenai kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam bulan Rejab. Ulama berselisih pendapat sama ada hadis-hadis ini boleh diterima untuk diamalkan atau ditolak berdasarkan penilaian hadis-hadis yang diklasifikasikan sebagai dha’if, sangat dha’if dan maudhu’ (palsu). Sebahagian ulama dan para pendakwah masa kini mengambil sikap berhati-hati dan sebahagiannya menolak hadis-hadis ini dan melarangnya disampaikan kepada masyarakat. Di antara contoh hadis-hadis mengenai bulan Rejab yang adalah seperti berikut: -

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud; “Rejab bulan Allah, Sya’aban bulanku (Nabi Muhammad SAW), Ramadan bulan umatku”.

(Hadis ini dikatakan mun’kar bahkan dianggap maudhu’ dan tiada padanya nilai ilmiah yang boleh dipertanggungjawabkan)

“Dalam syurga ada sebuah sungai bernama Rejab, airnya lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu. sesiapa berpuasa dalam bulan Rejab, nescaya diberi minum air sungai itu”.

(Hadis ini juga dhai’f)

“Sesiapa berpuasa sehari dalam bulan Rejab, sama seperti ia berpuasa sebulan. Sesiapa berpuasa 7 hari nescaya ditutup daripadanya 7 pintu neraka Jahannam. Sesiapa berpuasa 8 hari, nescaya dibuka 8 pintu syurga”. (Hadis ini dha’if)

Perbahasan: Penentuan sesuatu hadis sama ada ianya sahih, hasan, dha’if dan sebagainya disebabkan oleh perawi (pembawa)nya. Ini memerlukan satu perbincangan yang panjang. Kita bersetuju bahawa apabila sesuatu hadis yang hendak disampaikan oleh seseorang penceramah, beliau hendaklah menyebut kedudukan hadis tersebut dan siapa yang meriwayatnya. Perlu dijelaskan di sini bahawa adalah tidak patut hanya disebabkan hadis itu dha’if, maka ia perlu diketepikan dan ditolak mentah-mentah. Hadis dha’if adalah tetap hadis dan ia bukannya maudhu’. Penilaian ulama terhadap perawi sesuatu hadis adalah berbeza-beza. Seseorang ulama hadis mungkin menilai hadis itu dha’if atau maudhu’ pada kajiannya sahaja akan tetapi kepada ulama hadis yang lain ia tidak begitu. Sekiranya seorang atau dua ulama yang menilai sesuatu hadis itu dha’if tidaklah sampai menjejaskan hadis tersebut. Mungkin di antara perkara ganjil yang terdapat di dalam hadis yang dianggap dha’if ialah besarnya ganjaran pahala yang dijanjikan apabila kita melakukan sesuatu amalan yang dianggap sedikit. Perkara ini janganlah dijadikan persoalan kerana ganjaran yang besar itu hanya pada anggapan akal fikiran kita sahaja tetapi ianya adalah kecil di sisi Allah SWT yang Maha Kaya dan Maha Pemurah untuk hamba-hambaNya yang sentiasa mencari dan mengharapkan rahmat serta keredhaanNya.

Selain berpuasa di bulan Rejab, kita dianjurkan memperbanyakkan berdoa’, solat sunat, berselawat, bersedeqah, beristighfar, membaca al-Quran dan berzikir. Dalam kitab Raudhoh Imam Nawawi ada menyebutkan “Malam awal Rejab mustajab doa’nya”.

Marilah sama-sama kita merebut peluang-peluang keemasan yang terdapat dalam bulan Rejab ini dengan memperbanyakkan amalan kebaikan. Namun begitu, setiap amalan mestilah bersandarkan kebenaran dan tidak terkeluar dari batas yang dibenarkan termasuk mengelakkan diri daripada melakukan perkara-perkara bid’ah.

Wallah hu’alam bissawab.

Tuesday, March 13, 2012

Kelebihan Surah Insyirah (Surah 94)

Salam saudara/ri yang diberkati Allah swt..

Kali ini ana nak share secara ringkas mengenai kelebihan Surah Insyirah atau lebih dikenal sebagai Surah Alam Nasyrah untuk kita hayati dan amalkan bersama-sama.




Nabi Muhammad S.A.W bersabda :
  • Barangsiapa membaca surah Alam Nasyrah, seperti ia mendatangi aku dan aku mengambil kesempatan maka menjadi suatu kelapangan daripadaku.
  • Barangsiapa membiasakan membaca surah Alam Nasyrah selesai mengerjakan solat fardhu, nescaya Allah permudahkan urusannya serta dimudahkan segala keperluannya dan dimudahkan rezekinya.
  • Sesiapa yang membacanya nescaya Allah turut melapangkan dadanya serta dijauhkan daripada segala kesukaran dalam segala urusannya. Dihilangkan segala sifat kesal dan jemu, serta mendatangkan rajin dalam mengerjakan ibadat.
  • Barangsiapa membaca Alam Nasyrah sembilan kali sesudah solat fardhu nescaya Allah akan menjauhkan daripada kesempitan hidup dan dimudahkan rezeki dalam segala urusan.
Amin...

Tuesday, January 24, 2012

7 Sunnah Rasullulah SAW Yang Wajib Dipraktikan Dalam Kehidupan Harian

BERIKUT MERUPAKAN 7 SUNNAH NABI SAW HARIAN

1. Shalat Tahajud
Kita semua mengetahui, bahwa Shalat Tahajud adalah SHALAT TERAMAT PENTING SETELAH SHALAT FARDHU (wajib) lima waktu. Karena dengan shalat Tahajud Allah SWT akan MENGANGKAT DERAJAT kehidupan manusia.
Shalat Tahajud dilakukan diwaktu malam (setelah tidur) karena disaat malam-sunyi tersebut melakukan shalat akan LEBIH KHUSYUK dan bacaan di waktu tsb LEBIH BERKESAN.
Al-Isra : 79 ”Dan dari sebagian malam hendaklah engkau bangun (tahajud), sebagai AMALAN TAMBAHAN untukmu. Semoga Tuhanmu mengangkat (derajatmu) ke tempat terpuji”.
Abu Huraira R.A meriwayatkan RASULULLAH SAW bersabda :”Tuhan kita turun SETIAP MALAM ke langit dunia pada SEPERTIGA MALAM terakhir, dan berfirman – Siapa yang BERDOA kepada-Ku PASTI AKU KABULKAN, siapa yang MEMOHON kepada-Ku PASTI AKU BERI, dan siapa yang MEMOHON AMPUN kepada-Ku, PASTI AKU AMPUNI !” (HR. Al-Jama’ah).
Amr bin Al-Ash meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda :
”Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT adalah PADA TENGAH MALAM TERAKHIR. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang BERDZIKIR mengingat Allah SWT pada saat itu, maka lakukanlah ” (HR. Al-Hakim).
Salman Al-Farisi meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :
”Kerjakanlah shalat malam, sebab itu adalah KEBIASAAN ORANG SHALEH sebelum kamu, JALAN MENDEKATKAN DIRI kepada Tuhan, PENEBUS KEJELEKAN, PENCEGAH DOSA, serta PENGHALAU SAKIT ”.
Subhanallah ! Demikian besarnya keutamaan Shalat Tahajud. Marilah kita mulai rutin lakukan !
Pelaksanaan :
- Shalat malam sebaiknya DILAKUKAN DI RUMAH, bukan di Masjid.
- Bacaan shalat malam BOLEH NYARING dan juga BOLEH PELAN.
- Jumlah rakaatnya MINIMAL 2 rakaat, 4, 8, dst, tidak terbatas.
- Diakhiri dengan SHALAT SUNNAH WITIR 3 rakaat, ganjil.
2. Membaca & Mempelajari AL-QUR’AN
Rekan Muslim, terjadinya berbagai masalah kompleks dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, perusahaan dan bernegara, terjadinya karena semua bersumber kepada AL-QUR’AN TIDAK DIJADIKAN SEBAGAI PETUNJUK dan PEDOMAN HIDUP.
Kinilah saatnya kita ”kembali untuk mendalami” kitab yang bersumber dari Allah SWT! (bukan karangan manusia !) tersebut.
Al-Qur’an sebaiknya dipelajari secara SISTEMATIS, diungkap maknanya, digali kandungannya dan isinya sebagai PEDOMAN HIDUP. Bahkan secara transendental-psikologis, Al-Qur’an harus didekati secara emosional, MELIBATKAN PERASAAN dalam upaya menyelami makna terdalam dan hikmah tertinggi yang dimiliki.
”Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah SWT yang maha Pemurah kepada mereka, mereka MENYUNGKUR, BERSUJUD dan MENANGIS” (QS. Maryam : 58)
HR.Tirmidzi :
”Al-Quran adalah kitab Allah SWT yang berisi SEJARAH UMAT sebelum kamu, BERITA UMAT sesudahmu, kitab yang MEMUTUSKAN/menyelesaikan urusan di antara kamu, yang nilainya bersifat PASTI & ABSOLUT. Siapa saja yang durhaka ”meninggalkannya” pasti Allah SWT akan ”memusuhinya”. Siapa yang MENCARI PETUNJUK SELAIN AL-QUR’AN, PASTI AKAN TERSESAT. Al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat, PERINGATAN YANG BIJAKSANA dan JALAN YANG SANGAT LURUS”.
Langkah yang sebaiknya kita lakukan adalah dengan :
- Membacanya
- Mencatatnya
- Menghafalnya
- Memahaminya
- Mengamalkannya
Perlu diingat, bahwa Al-Qur’an baru terbukti menjadi petunjuk ketika ada KENYATAAN DALAM PRAKTEK KEHIDUPAN kita. Agar pendalaman Al-Qur’an yang kita lakukan semakin berimplikasi positif bagi kita dan manusia secara umum, maka dalam MENGEKSPLOITASI isi, kisah, hikmah Al-Qur’an seharusnya kita belajar kepada para ulama yang sudah lebih awal dan lebih panjang menadaburi Al-Qur’an termasuk sejumlah tafsir dan karya tulis.
Sedemikian pentingnya sebuah kandungan makna/isi Al-Qur’an, sampai Allah SWT berfirman :
”Kalau sekiranya kami turunkan Al-Qur’an kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya TUNDUK TERPECAH-PECAH disebabkan TAKUT KEPADA ALLAH SWT. Perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR ! ” (QS. Al-Hasyr : 21)
3. Shalat Shubuh Berjamaah di Masjid
Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadits di hadapan para sahabatnya, ketika menanyakan salah seorang jamaahnya tidak terlihat dalam shaf shubuh berkali-kali :
”Sungguh, shalat yang PALING BERAT BAGI ORANG MUNAFIK, adalah shalat Isya dan SHALAT SHUBUH. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, mereka pasti mendatangani keduanya, SEKALIPUN DENGAN MERANGKAK ” (HR. Bukhari-Muslim).
Banyak ulama hadits menilai tentang penjelasan hadits ini, di antaranya bahwa untuk menilai seseorang apakah sungguh-SUNGGUH BERIMAN atau malah MUNAFIK, maka dapat dilihat shalat shubuhnya.
Shalat Shubuh merupakan satu di antara shalat wajib 5-waktu yang mempunyai KEKHUSUS-AN dan memiliki KEUTAMAAN yang luar biasa.
1.Merupakan SHALAT PALING UTAMA yang diwajibkan pada kaum Muslimin. (merupakan shalat yang sejak awal disyariatkan tetap 2-rakaat).
2.ADZAN shubuh berbeda dengan adzan shalat wajib lainnya, dengan menambahkan ’Ash-shaltu khairum minan naum’ – ”shalat itu lebih baik dari tidur, sebanyak 2 kali”.
3. Rasulullah SAW memberikan DOA KHUSUS setelah shalat shubuh, yang berbeda dengan shalat lain. Doa ini sebagai tambahan ’wirid’ penutup shalat.
Diriwayatkan oleh Abu Dzar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
”Siapa mengatakan setelah shalat shubuh, SEBELUM MENINGGALKAN TEMPAT DUDUKNYA dan BERBICARA SEDIKITPUN – La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yuhyi wa yumitu wahuwa ala kulli sya in qadir – sebanyak 10X, maka akan ditulis baginya 10 kebaikan, dihapus 10 kesalahan dan diangkat derajatnya 10 kali lebih tinggi. Satu hari penuh ia terlindungi dari suatu yg tidak disukai, terlindungi dari syetan, tidak ada dosa yang pantas dianggap sebagai dosa, kecuali syirik ” (HR.Tirmidzi).
Rasulullah SAW pernah menasehati Muslim bin harits : ” Jika kamu shalat shubuh, maka bacalah sebelum kamu berbicara – Allahumma ajirni minannar (Ya ALLAH lindungilah aku dari api neraka) – sebanyak 7X, maka jika kamu mati hari itu, ALLAH akan menjauhkanmu dari api neraka ” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
4. Rasulullah SAW selalu MENYURUH MEMENDEKKAN BACAAN shalat, KECUALI SHALAT SHUBUH !Abu Barzah Al-Islami meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pada shalat shubuh membaca 60 sampai 100 ayat …..sampai sebentar lagi matahari terbit (HR. Muslim).
5. Rasulullah SAW mempunyai BACAAN KHUSUS SHALAT SHUBUH di HARI JUMAT ! Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca pada rakaat pertama SURAH AS-SAJADAH dan rakaat kedua SURAH AL-INSAN. Keistimewaan ini tidak terjadi pada shalat wajib lainnya !
6. Shalat shubuh TIDAK BISA DI-QASAR dan DIJAMAK !
Seperti yang juga kita pahami dari beberapa hadits, pada saat shalat shubuh inilah pergantiang malam dan siang dimulai. Pada saat itu pula MALAIKAT MALAM dan SIANG BERKUMPUL dan BERGANTI TUGAS.
”SHALAT BERJAMAAH LEBIH UTAMA dari shalat sendirian sebanyak 25 kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang BERKUMPUL PADA SHALAT SHUBUH” (HR. Bukhari).
ALLAH SWT berfirman : ”Dan dirikanlah SHALAT SHUBUH. Sungguh, shalat shubuh itu DISAKSIKAN OLEH PARA MALAIKAT” (QS. Al-Isra : 78).
Ada lagi hal utama dalam shalat shubuh, adalah – DUA RAKAAT SHALAT FAJAR (shalat sunah sebelum atau qabliyah shubuh) yang LEBIH BAIK DARI DUNIA & SEISINYA (HR. Muslim).
Rasulullah SAW mengistimewakan shalat ini dengan menggambarkan bahwa : ”Seandainya dunia dan seisinya ini adalah sebuah kebaikan, maka JAUH LEBIH BAIK 2 RAKAAT SHALAT FAJAR YANG KITA KERJAKAN” !
Selain itu pula, SHALAT SHUBUH BERJAMAAH DI MASJID bisa menjadi PENERANG PADA HARI KIAMAT KELAK, seperti yg disabdakan Rasulullah SAW : ”Berilah kabar gembira bagi orang-orang YANG BERJALAN DI KEGELAPAN MENUJU MASJID (untuk mengerjakan shalat shubuh) DENGAN CAHAYA YANG TERANG-BENDERANG (pertolongan) PADA HARI KIAMAT ! ” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah).
Dari semua pengetahuan kita tentang keutamaan SHALAT SHUBUH BERJAMAAH DI MASJID INI, kesombongan apalagi pada diri kita yang akan menghalangi untuk menjalankannya ?
4. Melakukan SHALAT DHUHA
”Wahai anak Adam, cukupilah aku dengan melakukan EMPAT RAKAAT SHALAT DHUHA pada pagi hari, maka aku akan MENCUKUPI KEBUTUHANMU pada akhir hayatmu” (HR Ahmad & Abu Ya’la).
Beliau berwasiat kepadaku tentang 3 hal, yang sejak itu aku TIDAK PERNAH MENINGGALKANNYA :
Pertama – Hendaknya aku tidak tidur sebelum mengerjakan SHALAT WITIR
Kedua – Hendaknya aku tidak meninggalkan dua rakaat SHALAT DHUHA (karena shalat DHUHA adalah shalatnya ’awwabin’-orang yg bertobat kepada ALLAH SWT serta meninggalkan maksiat)
Ketiga – Hendaknya aku BERPUASA 3 HARI setiap bulan – (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)
Salah satu makna fungsional shalat DHUHA adalah agar pelakunya MENDAPATKAN REZEKI dan DIJAUHKAN DARI KEMISKINAN : ”Shalat DHUHA itu mendatangkan rezeki dan menolak kemiskinan, dan tidak ada yang memelihara shalat kecuali orang-orang bertobat” (HR. Tirmidzi)
”Siapa yang mengerjakan shalat DHUHA 2 rakaat – dia TIDAK AKAN dicatat dalam kelompok orang-orang yang LUPA. Siapa yang mengerjakan shalat DHUHA 4 rakaat – dia dicatat dalam kelompok orang-orang yang AHLI IBADAH. Siapa yang mengerjakan shalat DHUHA 6 rakaat – pada hari itu segala kebutuhannya DICUKUPI oleh ALLAH SWT. Siapa yang mengerjakan shalat DHUHA 8 rakaat – maka ALLAH SWT mencatatnya termasuk golongan yang TUNDUK dan menghabiskan waktunya untuk BERIBADAH. Dan, siapa yang mengerjakan shalat DHUHA 12 rakaat – maka ALLAH SWT membangunkan baginya sebuah ISTANA INDAH DALAM SURGA.Tidak ada dalam sehari-semalam kecuali ALLAH SWT pasti MEMBERIKAN ANUGERAH serta SEDEKAH kepada hambaNYA” (HR. Thabrani dan Abu Daud).
Subhanallah !
5. BERSEDEKAH
Maha suci ALLAH SWT, ZAT yang telah membersihkan hati orang-orang beriman dari sifat angkuh dan serakah. ALLAH SWT lah yang menyelipkan ke sanubari orang beriman perasaan iba, simpati sekaligus empati kepada orang-orang yang lemah dan membutuhakan bantuan, melalui bersedekah.
Bersedekah tidak harus besar, yang penting dengan KEIKHLASAN.
Kita bersedekah TIDAK MENGHARAPKAN BALASAN dari orang yang kita bantu. Kita harus yakin ALLAH SWT lah yang akan membalas.
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (HARTANYA) DI WAKTU LAPANG & DI WAKTU SEMPIT, dan orang-orang yg menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat baik ” (QS. Ali Imran : 133-134)
” Perbandingan (balasan atau pahala) bagi orang-orang yg MEMBELANJAKAN HARTANYA DI JALAN ALLAH seperti satu biji yg menumbuhkan tujuh cabang, di setiap cabang menjuntai seratus buah, dan ALLAH akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan ALLAH itu luas (pemberian-Nya) lagi sangat mengetahui ” (QS. Al-Baqarah : 261)
”Siapa yang MEMBANTU MENYELESAIKAN KESUSAHAN SESEORANG di dunia (lebih-lebih lagi saudara sesama Muslim), ALLAH PASTI MEMBANTU MENYELESAIKAN KESUSAHANNYA DI DUNIA dan AKHIRAT ” (HR. Bukhari).
Berkah sedekah bisa sirna jika orang yang bersedekah MENGUNGKIT-UNGKIT dan SELALU MENYEBUT-NYEBUT sedekah itu di depan umum.
Sedekah dapat MEMADAMKAN MURKA ALLAH SWT
Sedekah dapat MEMELIHARA MANUSIA DARI KEJAHATAN
Siapakah yang DIUTAMAKAN UNTUK DIBERI SEDEKAH ?
1- ANAK YATIM, karena sebelum dewasa anak yatim belum dapat mandiri. Mereka adalah TITIPAN ALLAH SWT kepada hamba lainnya yang mampu.
2- FAKIR MISKIN, yang perlu dibantu agar dapat diberdayakan agar mandiri.
3- JANDA dan LANSIA, karena kehilangan tulang punggung pencari nafkahnya, serta kehilangan masa produktifnya.
4- YANG TERLILIT HUTANG
5- YANG TERKENA MUSIBAH
6. SELALU DALAM KEADAAN BERWUDHU
Banyak hadits yang sangat menganjurkan untuk TETAP BERWUDHU WALAUPUN TIDAK HENDAK MENDIRIKAN SHALAT.
Berdasarkan sunnah tsb, mulai generasi sahabat hingga orang-orang shaleh, senantiasa mereka MENJAGA WUDHU DALAM SEGALA AKTIFITAS, baik dalam perjalanan, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dalam bekerja, ketika hendak tidur, termasuk sebelum & sesudah berhubungan suami-istri.
BERWUDHU BUKAN HANYA DISAAT MENGHADAP ALLAH SWT dalam shalat, tapi juga ketika akan tidur – BERADA DALAM KESUCIAN.
ALLAH SWT berfirman : ”Sungguh, ALLAH menyukai orang-orang yg bertobat dan mereka yang MENYUCIKAN DIRI” (QS. Al-Baqarah : 222).
Abu Hurairah meriwayatkan RASULULLAH SAW, bersabda :
”Pada hari kiamat, karena bekas wudhunya (yang bercahaya). Siapa ingin memanjangkan ghurram-nya silakan lakukan” (HR. Bukhari).
”Siapa yang BERWUDHU (untuk mendapatkan) KESUCIAN, maka ALLAH akan MENETAPKAN BAGINYA DENGAN SEPULUH KEBAIKAN” (HR. Abu Daud)
”Seseorang senantiasa DIANGGAP SEPERTI DALAM KEADAAN SHALAT, asal dia tidak berhadas (= buang angin)” (HR. Bukhari)
7. SELALU BERDZIKIR
Dzikrullah memiliki daya hidup. Menghidupkan dan menyemangati jiwa yang rapuh, melapangkan jiwa yang sempit serta membangkitkan keyakinan bagi yang mengalami kelelahan dalam menjalani kehidupan.
DZIKIR yang UTAMA :
* La ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Lahul mulku wa lahu hamdu wa huwa ’ala kulli syay’in qadir
* Subhanallah wal hamdu lillah wa ilaha illallah wallahu akbar
* Subhanallah wa bihamdihi
* Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil azhim
* (surah Al-Fatihah)
Rasulullah SAW bersabda : ”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, seperti ORANG YG HIDUP dan ORANG YG MATI” (HR. Bukhari)
”Dan laki-laki yang BANYAK MENYEBUT (MENGINGAT) ALLAH disertai dengan perempuan yang banyak menyebut Allah, maka Allah telah menyediakan untuk mereka AMPUNAN & PAHALA YG BESAR ” (QS. Al-Ahzab : 35)
”Maka apabila kami telah menyelesaikan shalat, INGATLAH DI WAKTU BERDIRI, DUDUK maupun BERBARING ….” (QS. An-Nisa : 103)
”Karena itu, INGATLAH KALIAN PADA-KU, niscaya Aku pun akan ingat pada kalian…” (QS. Al-Baqarah : 152)
”INGATLAH TUHANMU SEBANYAK-BANYAKNYA dan BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu di waktu petang dan pagi ” (QS. Ali-Imran : 41)
Pribadi yang BERDZIKIR :
Setiap KALAMNYA adalah DAKWAH
Setiap DIAMNYA adalah DZIKIR
Setiap NAPASNYA adalah TASBIH
Setiap PANDANGAN MATANYA adalah RAHMAT
Setiap SUARA TELINGANYA selalu TERJAGA
Setiap PIKIRANNYA adalah BAIK SANGKA
Setiap GERAK HATINYA adalah DOA
Setiap SENTUHAN TANGANNYA adalah SEDEKAH
Setiap LANGKAH KAKINYA adalah JIHAD
Kekuatannya adalah SILATURAHMI
Kesibukannya adalah ASYIK MEMPERBAIKI DIRI
Kerinduannya adalah TEGAKNYA SYARIAT ALLAH SWT
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Semoga kita sama-sama mengamalkan Sunnah Nabi SAW agar dapat menjadi seorang Muslim yang sejati dan beriman. Wallahu'Alam.
Subhanaka Allahumma Wabihamdika Asyhadu Alla illaha illa Anta Astaghfiruka Wa Atubu ilaik.
 

Copyright © 2012 Reserved to MOHAMAD THAMIM ANSHAARI Design by CikBulat